Jeritan kecil anak
baru gede menyadarkan Dira dari lamunan atau entah kantuk selepas kerja
sore ini. Metro Mini 610 arah Pondok Labu melaju lambat-lambat menyusuri Jalan
Melawai. Jakarta, seperti biasa, panas, sesak, dan penat. Si empunya badan
hanya menghela nafas dan menggumam dalam pikir. Hidup semakin sepi. Banyak cerita
dan kolega lantas tak membuat hari semakin berwarna. Entah kenapa akhir akhir
ini Dira merasa sepi. Teman yang sebenarnya teman pun ia ragukan. Karena terkadang
sempat mampir di pikiran, apa iya teman adalah teman. Apa iya yang dianggap
juga menganggap? Bagaimana jika semuanya berlawanan arah? Lalu, pada siapa ia
harus mengadu? Karena terkadang Dira takut, bahwa semakin kau tua, bukan waktunya
lagi kau mengadu. Bukan karena urusan kodrati. Hanya saja, memang sudah tidak
ada tempatnya. lalu Dira harus mengangkat semuanya tanpa siapapun, walau
seringnya ia merasa mengangkat milik yang lain. Bukan dipaksa, atau diminta, hanya karena Dira rela. Jakarta
memang hingar, tapi selalu ada yang sepi dan kosong. Karena hidup nyatanya
sendiri sendiri. Metro mini berhenti, dan para ABG pun berhamburan turun dengan
segala kikik tawa yang dibawa. Dira menghela nafas, menutup matanya, dan Metro Mini mulai bergerak
lagi.
July 25, 2015
July 06, 2015
akhir akhir ini
sudah lama saya tidak menggumam sendirian, mungkin karena kehidupan mulai teralu angkuh untuk dijeda atau mungkin memang saya yang demikian sombong tidak memberikan secelah waktu untuk terdiam dan melihat ke dalam. iya akhir akhir ini memang saya "dituntut" untuk lebih padat pada jadwal.
akhir akhir ini ya begini. sarjana baru. sarjana muda bau kencur. bingung tengok kanan kiri cari cari jalan menuju apalah itu namanya kesuksesan. buat saya, kali ini cukup membingungkan. saya terbiasa dengan tujuan yang jelas dan konkret. kali ini lain, saya semacam harus tanya kanan kiri dan GPS pun nampaknya tak berlaku lagi.
beberapa pilihan memang terpapar. dan akhirnya, saya memilih (atau dipilihkan Tuhan). saya mencoba mendengarkan diri sendiri, mengiyakan kata hati. banyak sih yang menyayangkan dan bahkan mencibir, "ngapain sih nir milih kerja kaya gitu?" tapi ya sudah, hidup toh hidup saya. saya yang menjalani saya yang menanggung sendiri. semoga saya dan yang saya cintai bisa menikmati.
akhir akhir ini memang begitu, orang orang mondar mandir wara wiri. komentar sana komentar sini. unjuk gigi unjuk prestasi unjuk materi. tapi ya ga apa apa juga. namanya juga aktualisasi diri.
pokoknya, buat saya, akhir akhir ini ya gini:
"umur sudah segini, bukan waktunya ikut ikutan lagi."
*dikutip dari Ms Nike, salah satu dosen saya, di sela sela obrol obrol santai tentang rencana hidup. terimakasih banyak, ms.
akhir akhir ini ya begini. sarjana baru. sarjana muda bau kencur. bingung tengok kanan kiri cari cari jalan menuju apalah itu namanya kesuksesan. buat saya, kali ini cukup membingungkan. saya terbiasa dengan tujuan yang jelas dan konkret. kali ini lain, saya semacam harus tanya kanan kiri dan GPS pun nampaknya tak berlaku lagi.
beberapa pilihan memang terpapar. dan akhirnya, saya memilih (atau dipilihkan Tuhan). saya mencoba mendengarkan diri sendiri, mengiyakan kata hati. banyak sih yang menyayangkan dan bahkan mencibir, "ngapain sih nir milih kerja kaya gitu?" tapi ya sudah, hidup toh hidup saya. saya yang menjalani saya yang menanggung sendiri. semoga saya dan yang saya cintai bisa menikmati.
akhir akhir ini memang begitu, orang orang mondar mandir wara wiri. komentar sana komentar sini. unjuk gigi unjuk prestasi unjuk materi. tapi ya ga apa apa juga. namanya juga aktualisasi diri.
pokoknya, buat saya, akhir akhir ini ya gini:
"umur sudah segini, bukan waktunya ikut ikutan lagi."
*dikutip dari Ms Nike, salah satu dosen saya, di sela sela obrol obrol santai tentang rencana hidup. terimakasih banyak, ms.
November 27, 2014
Surat Kepada Bujang
Selamat malam, Bujang.
Apa kabar? Surat mu kemarin sudah ku terima. Iya, Jang,
hidup memang sudah berbeda sekarang. Sama seperti diriku.
Aku merasa ada yang salah. Aku selalu melakukan salah. Dan selalu
merasa bersalah karenanya. Walaupun orang bilang tidak ada yang salah. Tapi bagaimana
kau tidak merasa bersalah ketika yang dihadapkan dengan mu adalah semua hal
yang benar, tidak ada cacatnya, tidak pernah salah? Lalu, kau anggap apa
dirimu, Jang, jika kau berada di kaki ku?
Aku ingat terakhir kali kau katakan kepada ku bahwa aku
harus selalu belajar. Belajar berdamai dengan diri sendiri. Menerima kesalahan.
Memaafkan diri sendiri. Dan mulai bergerak maju. Belajar dari kesalahan dengan
tidak mengulanginya. Tapi, rasanya lain, Jang, disini. Seakan semuanya tak
cukup. Ada saja cacatnya. Mereka bilang,
sih, tak mengapa, seperti biasa. Tapi, hati ku mengatakan lain, Jang.
Rasanya ada yang mengganjal. Karena jujur saja, disini segalanya menghimpit,
memojokan, perlahan dan tidak kentara.
Menurutmu, baiknya aku bagaimana, Jang?
Jang, datanglah ke kota ku. Aku mulai hilang arah, Jang. Bantu
aku. Seperti dulu kau mengajari ku bagaimana mengendarai sepeda atau
menerbangkan layangan berserta manuver liukan mengelak jebakan tiang listrik
yang menjebak layangan lima ratus perak kita. Aku rasanya mau membelah diri
saja kalau begini caranya, Jang. Membiarkan setengah dan setengah diri ku
melakukan kesalahan dan kebaikan masing-masing. Terpisah. Agar tak tercampur. Agar
aku bisa dengan mudah nya melihat,
Mana tahu, aku bisa melakukan kebaikan juga.
November 12, 2014
Surat Untuk Gadis
Hai Gadis,
Apa kabar? Sudah lama tak jumpa dan mengobrol seperti biasa.
Lama sekali. Waktu sungguh cepat berlalu, ia tak lagi merangkak seperti masa
muda dulu. Ia sekarang lebih kekar dan lincah, sudah mampu melaju pesat,
berlari tanpa tengok kanan kiri.
Apa kabar, Gadis? Rindu rasanya tak berbincang. Membahas hal
hal sepele yang seenak jidat masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Mencibir
kejadian yang sebenarnya lumrah mampir di pagi hari. Mencaci siang karena panas
nya matahari. Mengutuk malam yang selalu datang bersamaan gelap. Atau
menerawang bodoh tentang masa depan. Apa dan jadi apa. Mengapa dan jawabannya. Tak
perlu ada fakta. Tak perlu serius. Karena hidup adalah apa adanya.
Hidup di sini cukup berbeda, Gadis. Tak tahu bagaimana hidup
mu di sana. Di sini, semua berlarian, semua berkejaran. Dengan orang lain, diri
sendiri, dan waktu. Iya. Waktu yang semakin dewasa. Semua nya berkompetisi. Tinggal
saya di sini yang mulai kebingungan. Tertatih tatih mencari celah. Ingin sekali
rasanya saya juga ikut berlari. Berlari mengejar atau berlari menginggalkan
mereka. Rasanya mereka tak pernah berhenti, Dis. Ada yang pernah bilang bahwa
sebaik-baiknya manusia adalah yang selalu jalan—berlari—ke depan. Tanpa menoleh
ke belakang. Lurus. Fokus. Apa iya, Dis? Apa benar? Saya pernah kali melakukan
nya, terus lurus ke depan. Tapi mungkin pertanyaannya, apa saya benar benar lurus
fokus? Atau sebenarnya saya tidak berlari seperti mereka namun saya hanya
berjalan? Berjalan melewati hari? Apa saya salah berjalan dan tidak berlari
seperti yang lain? kenapa saya merasa bersalah karena tidak ikut berlari?
Saya mulai letih, Gadis. Entah karena saya letih untuk
berlari lagi atau saya mulai letih berjalan kaki.
Begitulah, Dis. Sekarang kehidupan mulai lain, ya? Hidup bukan
lagi sekedarnya. Banyak yang bilang hidup itu harus bermakna. Yang mana sih yang bermakna? Sampai sekarang saya
pun masih belum tahu jawabannya. Masih belum paham. Mungkin ini sebabnya saya
rindu kamu, Gadis. Kapan lagi kita berbincang?
November 09, 2014
karena pagi telah datang dari sepi
menyibak hari dengan terang tak bertepi
siap menari dan merona
terang tak bertepi merasuk diri
sisi ruang batin yang hampa merindu pagi
mewujudkan keinginan untuk kembali berlari
kembali berlari bukan menghindar
mencari jejak yang berharap
dengan setitik embun dan senyum
mengejar harap yang kau tenun
embun dan senyum berkait berpadu
menciptakan kebahagiaan di bawah mentari
menyanjung dengan selamat pagi
karena pagi telah datang dari sepi
aku cinta kamu, peri pagiku.
(A)
menyibak hari dengan terang tak bertepi
siap menari dan merona
terang tak bertepi merasuk diri
sisi ruang batin yang hampa merindu pagi
mewujudkan keinginan untuk kembali berlari
kembali berlari bukan menghindar
mencari jejak yang berharap
dengan setitik embun dan senyum
mengejar harap yang kau tenun
embun dan senyum berkait berpadu
menciptakan kebahagiaan di bawah mentari
menyanjung dengan selamat pagi
karena pagi telah datang dari sepi
aku cinta kamu, peri pagiku.
(A)
July 20, 2014
Warrior of light
frequently ask themselves
what they are doing here.
Very often they believe
their lives have no meaning.
That is why they are warriors of light.
Because they make mistake.
Because they ask questions.
Because they continue
to look for a meaning.
And, in the end, they will find it.
--Paulo Coelho, The Manual of The Warrior of Light--
Subscribe to:
Comments (Atom)