Entah sudah berapa lama saya tidak
kembali mengetik dan menulis hal hal berserakan yang ada di kepala saya. Sudah teralu
lama dan teralu berantakan terpendam. Sempat beberapa kali saya berencana untuk
kembali melakukan hal yang saya suka—sebenarnya juga bukan suatu hobi atau
bagaimana sih, hanya saja terkadang saya merasa dengan menulis, lega menjadi
salah satu hasilnya. Jadi yah, anggap saja hal yang melegakan. Mungkin karena
sudah setahun ini saya digerus oleh kenyataan. Kenyataan umur 20-an. Kalau kata
teman teman saya quarter life crisis,
bahasa keren nya. Mulai kenal dengan dunia nyata bukan buaian seperti yang
biasa digunakan Mbak Syahrini lengkap dengan tagar pada tiap postingannya. Cari
kerja. Cari pengalaman. Cari duit. Kerja keras nangis darah peres keringet otak
dan kuras hati. Yah namanya juga anak baru nyemplung, anak bau kencur. Jadilah,
semua konsentrasi, tenaga, dan emosi tercurah ke pekerjaan baru yang sebenarnya
sih mungkin belum seberapa dari yang lain lain. Tapi, karena belajar bekerja
itu lah yang sering kali membuat saya lupa melegakan diri saya. Gak cuma nulis
kok. Saya biasanya juga suka nyanyi nyanyi sendiri gak jelas atau baca buku biar
keliatan kritis sophisticated. Pulang
kerja, bilang capek, lalu goler goler setelah mandi lantas tepar ngorok, sok
sok merasa lelah hasil dari kerja peras otak tenaga perasaan hari itu. Terus berulang,
lalu ngeluh, “Duh sumpah ya, udah umur segini kerjaan banyak, ga bisa seneng
senang lagi.” Meh. Harusnya saya gak gitu gitu amatlah. Harusnya ga usah sok
sok kelelahan lantas lupa hal hal yang bisa buat nafas lega. Harusnya ya saya
lakuin aja hal hal yang saya suka untuk melepas lelah. Ngapain kek, nulis
random kaya gini kek, nyanyi nyanyi ga jelas di smule kek, atau baca buku
chicklit. Jangan manja akibat sombong ah. Sok sok an kerja keras lalu menye bilang kecapean sampe ga punya
waktu buat nyenengin diri sendiri. Dasar mental Nutrijell.
Showing posts with label mumbling stuff. Show all posts
Showing posts with label mumbling stuff. Show all posts
May 13, 2016
November 12, 2014
Surat Untuk Gadis
Hai Gadis,
Apa kabar? Sudah lama tak jumpa dan mengobrol seperti biasa.
Lama sekali. Waktu sungguh cepat berlalu, ia tak lagi merangkak seperti masa
muda dulu. Ia sekarang lebih kekar dan lincah, sudah mampu melaju pesat,
berlari tanpa tengok kanan kiri.
Apa kabar, Gadis? Rindu rasanya tak berbincang. Membahas hal
hal sepele yang seenak jidat masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Mencibir
kejadian yang sebenarnya lumrah mampir di pagi hari. Mencaci siang karena panas
nya matahari. Mengutuk malam yang selalu datang bersamaan gelap. Atau
menerawang bodoh tentang masa depan. Apa dan jadi apa. Mengapa dan jawabannya. Tak
perlu ada fakta. Tak perlu serius. Karena hidup adalah apa adanya.
Hidup di sini cukup berbeda, Gadis. Tak tahu bagaimana hidup
mu di sana. Di sini, semua berlarian, semua berkejaran. Dengan orang lain, diri
sendiri, dan waktu. Iya. Waktu yang semakin dewasa. Semua nya berkompetisi. Tinggal
saya di sini yang mulai kebingungan. Tertatih tatih mencari celah. Ingin sekali
rasanya saya juga ikut berlari. Berlari mengejar atau berlari menginggalkan
mereka. Rasanya mereka tak pernah berhenti, Dis. Ada yang pernah bilang bahwa
sebaik-baiknya manusia adalah yang selalu jalan—berlari—ke depan. Tanpa menoleh
ke belakang. Lurus. Fokus. Apa iya, Dis? Apa benar? Saya pernah kali melakukan
nya, terus lurus ke depan. Tapi mungkin pertanyaannya, apa saya benar benar lurus
fokus? Atau sebenarnya saya tidak berlari seperti mereka namun saya hanya
berjalan? Berjalan melewati hari? Apa saya salah berjalan dan tidak berlari
seperti yang lain? kenapa saya merasa bersalah karena tidak ikut berlari?
Saya mulai letih, Gadis. Entah karena saya letih untuk
berlari lagi atau saya mulai letih berjalan kaki.
Begitulah, Dis. Sekarang kehidupan mulai lain, ya? Hidup bukan
lagi sekedarnya. Banyak yang bilang hidup itu harus bermakna. Yang mana sih yang bermakna? Sampai sekarang saya
pun masih belum tahu jawabannya. Masih belum paham. Mungkin ini sebabnya saya
rindu kamu, Gadis. Kapan lagi kita berbincang?
September 15, 2013
Lalu dan Lagi
Lalu kau berpacu
dengan waktu. Dia yang dituduh paling gila. Karena memang memabukan. Menyesatkan.
Memuakkan. Karena waktu itu sekarang. Bukan yang lalu atau yang di depan. Tapi jam
ini detik ini lagi.
Lalu kau
mengumpat. Mengapa jantung berdetak dengan ritme yang sama. Mengapa detak jatuh
pada waktu yang sama. Tak bergerak. Hanya statis. Kau menampar dirimu sendiri. Menumpahkan
keringat yang kau sebut kejemuan. Karena waktu itu sekarang dan bukan kapan
depan.
Lalu kau mulai
mengigau. Dalam sadarmu. Karena kau tahu bukan ini yang diinginkan. Ini hanya
waktu mengelabui. Karena ia bersikeras tak ingin menjawab. Bergeming. Kau tanya
dimana, kapan, apa, mengapa, siapa. Sunyiyang kau dapat. Kau dungu. Iris nadi dirimu sendiri jika kau tahu
itu salah.
Lalu kau sadar. Kau
bukan dungu. Kau hanya harus menunggu. Bersabar katanya. Iya. Karena siapapun
yang bijak hanya akan tersenyum. Melafalkan berbaris kata dan kalimat sakti
yang dirasa mujarab. Tapi yang kau tahu itu hanya sampah. Karena sang bijak pun
tak berpijak di tanah yang sama. Karena yang bijak hanya melirik, paling benar
ya sebatas mengobservasi, memantau. Apapun itu, berkaitan dengan hati dan
pikiran, selalu tak sejalan. Tak pernah terpecahkan.
Lalu kau
bertanya. Lagi. Pertanyaan yang sama. Kapan. Mengapa.
Lalu kau berpacu
dengan waktu. Kali ini bukan ia yang keparat, hanya saja kau yang sudah genggam khitah.
July 14, 2013
Jika hanya ini
yang semesta mau, biarlah. Tiap kehidupan miliki ceritanya sendiri. Yang terkadang
sanggup dibagi atau hanya sebatas ditutupi. Tak semua makna berurusan dengan
nyata, dan tak semua yang galak itu menyala. Dan jika ini berurusan dengan
semesta, biarlah. Karena hanya angin yang membawa, berbisik, dan langit
membaca. Tapi jangan salahkan jika hati ini sedikit mencela, karena selalu ada
bias warna pada laut. Yang memanjakan insan dengan segala kisah legenda dan
imajinasi berasas nafsu. Tak ada yang tahu, karena sering semesta membungkam. Karena
langitpun tak tahu, anginpun tak mendengar. Lalu seringnya menyalakan siapa? Matahari?
Jika ini yang
semesta ingin, berilah. Karena terkadang kita hanya bisa merenyuk padanya. Berdoa,
katanya. Padahal yang diminta adalah kemunafikan dan segala raya yang
mematikan.
April 03, 2013
Dicurangi Rindu
Aku dicurangi
rindu
Dia datang tak
kenal waktu
Padahal yang ku
minta hanya separuh
Bukan letupan dan
gemuruh
Aku selalu
dicurangi rindu
Atas nama gelisah
dan resah
Mengaduk jadi
satu dalam amarah
Terbakar dalam
bentuk air mata memadu
February 07, 2013
Have you ever felt that the space is getting smaller and you
just don’t know what to do? All you know is just you just need to scream out
loud with no one can hear it, for you know it is the sign of your flaw, then
you tend not to show so. However, things would become so much more irritating
if you just can “bare your soul”. Hence, you just hold your tongue, and
breathe. Inhaling and exhaling. Hope that your body and your mind speak
more than your emotion, and lead it to the edge then be cast away somehow. Holding
your emotion is helpful at times. You feel calm, but occasionally since you’re
just holding it, there is a possibility that it’d be gone. It could be back
somehow, with a greater tense. Your head is just scrambled. You can barely
breathe. You have no control of your body, especially your mouth and your
hands, and your feet. That holding tongue? Well, we’d be better not to mention
it. It’s gone. This is what we called The Roller-coaster Effect. In my case, it
does happen a lot. Like it or not, when it comes, I have to do all of my
efforts to enlarge, expand, and swell the space. The space in mind. Inhaling,
exhaling, or crying if it’s necessary. If it still doesn’t help. I’d better go,
or cry, or write, or go, or sing, or scream, or—actually I still haven’t got
the way how. Screw my self, I’d better be off.
January 29, 2013
Semoga Surat Ini Sampai
Selalu ada rasa
terselip untuknya. Tersimpan rapi rapat di ujung hari. Tiap hembus yang
terganjal dari senyum rahasia. Tak tahu seharusnya. Biarkan semuanya seperti
itu. mungkin, tak ada salah nya bergeming berjarak, bahkan tak bersuara. Merasa
sejauh memandang, merindu sejauh desah angin meradadang. Tiap kali ia buka
suara, telinga insan lain bekerja. Tiap kali ia lepas bungkam di wajahnya, riap
air mata tertahan haru. Lalu menyembul bulir tak nyaman di ujung hati.
Mengganggu.
Dia mungkin hanya
akan melihat sungging senyum. Dia tak tahu apa yang sebenarnya tersimpan.
Karena dia memang tak akan pernah tahu. Dan enyah adalah yang diinginkan kali
ini. Didoakan pergi, tapi ditahan di ekor. Dihembus melayang, tapi ditarik
benang pemberat. Lalu jejak rasa mau tak mau menggelayut. Padahal sajak patah
hati sudah di ujung tanduk. Lalu dia bisa apa?
Menelan rajut
nyata hidup bulat bulat sudah biasa. Sudah muak. Hampir mati rasa. Sama
biasanya dengar omong kosong mampir menyindir di tepi mimpi tiap kali rintik
menghampiri tanah memberikan segaris harapan. Dia mengerti apalah arti harapan
baginya? Seperti gerimis menyembul di balik awan kelam tiap kemarau. Tak
banyak. Sementara.
Terkadang ia
berpikir, angan itu tak hampa. Hanya kadang berpindah. Dari satu tujuan ke tujuan
lain. Dari satu bahasa ke bahasa lain. Dari satu musim ke musim lain. Tapi
nista dikatakan, angannya pun stagnan. Tak perpindah. Justru kian mengisi. Salah
disebutnya karena insan ini hanya boleh menyentuh bayangan tanpa menggenggam
tangan. Imaji hanya boleh dirangkai tanpa jeda aksi setelahnya. Mengeluh tiap
kali bayang nya melaju di tiap gelintir cahaya. Lantas melenguh jadi sandaran
semata sebab tuhan pun tak menjawab.
Tak pernah
diniatkan untuk menyanjung siapapun, bahkan karya tuhan paling agung. Karena
terkadang rasanya tak pantas, tak sesuai, tak pas. Tapi dalam hati mengiba,
siapa tahu insan ini berpaling lalu guntur tak tega, lantas menyampainkan pesan
pada tuhan yang nampaknya sedikit bingung. Lalu Dia membalikan telapak sejalan
keadaan. Tapi seperti orang katakan, hati siapa yang tahu. Hati siapa juga yang
dengar. Mereka bilang tuhan yang punya kuasa. Tapi mana?
Jadi ya sudah.
Dari dalam dia
mendoa.
Semoga surat ini
sampai.
Semoga surat ini
sampai.
January 10, 2013
Saya Iri
Saya iri
Pada kamu yang
bisa menelanjangi dan telanjang
Dimanapun kamu
bisa
Ke siapapun kamu
mau
Saya iri
Pada kamu yang
bicara jalang meradang
Lalu melukiskan
bayang di kanvas paling kelam
Biar semua fasih
tentang jiwa mu
Jelas. Pekat. Tebal.
Saya iri
Pada kamu yang
menyumpahi
Serapah rendah
tanpa kajian
Hanya emosi
Deru amarah
melengkapi
Saya iri
Pada kamu
Mengubah sampah
jadi lumrah
January 01, 2013
Dialog Januari-Januari
Januari
“I’m not that into him kok”
”Haha, orang juga tau lah nis, lo gimana, Adi gimana. Udah ah, gue cabut
dulu ya. Daaah,”
Selalu semudah
itu dia datang dan pergi, semaunya. Tinggal Nisa yang merasa kosong setelahnya.
Rasa penuh yang sementara, lalu lenyap tak bersisa.
Februari
“Mbak, apaan
tuh?”
“Coklat. Buat
suami gue.”
“Ah elo, udah tua
juga kelakuan masih aja kaya abege pacaran hahaha.”
“Heh, ini anak.
Ya gapapa dong, namanya juga Valentine’s day. Sah sah aja lah. Lo aja sirik ga
ada yang lo kasih coklat. Woooooooo….”
“Yeee ngapain
juga gue kasih coklat ke orang.”
“Iya lah, mau
ngasih gimana. Kelamaan
jomblo sih lo. Makanya, cepetan
punya pacar, ga usah nungguin yang ga dateng lah.”
Dua kata. Kalah.
Telak.
Maret
”Ciiiieeeee Niiisaaaaaa......udah ada yang baru aja tuh. Kenalin dong
kenalin sini! tiba-tiba ke kantor bawa yang bening gini. Siapa namanya hah? Siapa? Nicholas? Apa Bruce? Apa
James? Hahahaha”
“Heh sembarangan lo! Bukan siapa siapa, ini temen kampus dulu. Kenalin,
Pras. Pras ini Meli, itu Mbak Nunik, itu yang lo dudukin kursi nya Mas Arif,
orangnya lagi keluar kayanya.
Mel, Pras ini yang bakal bantuin kita buat agenda CSR ke panti asuhan bulan
depan”
”Pras.”
”Oooh muka bule gini namanya Pras? Hihihi lucu yaa. Pras, udah kenal Nisa dari lama ya? Udah, kalian jadian aja, kayanya pas deh.
Kamu tipe Nisa banget tuh. Hahahaha.”
”Oh gitu, mbak? Wah, doain aja ya mbak. Insya Allah deh
saya nanti make move hehehe.”
“Ya kali, Praaas…apaan sih.”
“Hahaha, jangan malu-malu kucing gitu lah, Nis. Sampe merah gitu muka lo.”
”Doain aja ya mba, hahaha”
“Ah mulai aneh aneh deh lo,Pras”
Nisa hanya mampu menggelengkan
kepala akibat ulah Meli dan gurauan Pras yang membuat jantung Nisa berhenti
berdegup sepersekianmilisekon.
April
“Mas Praaaaassss!!!!!!”
“Hey!! Apa kabar apa kabar? Duh udah berat ya kamu sekarang, pegel aku gendong kamu hahaha. Eh apa
ini?”
”Kue bolu kukus, dari kakak itu.”
”Oooh, iya iya.”
”Enak tau mas, mau ga? Nih buat mas,”
“Eeeh ga usah, buat kamu a…..”
”Hihi masuk mulut mas Pras deh, enak ya mas.”
“Hmmmmm..he eh he eh..”
“Kakak nya cantik baik lagi mas—iih
Mas kok diabisin siih kue akuuuuuuuu!!!!”
Mei
“Pras, lo tuh ngerti jalan ga sih?”
”Ngerti lah, Bandung sih daerah jajahan gue, Nis.”
”Ah gila lo, udah daritadi nih kita muter muter di jalan ini aja. Tanya
orang deh. Duh, ini dimana sih?”
”Hahaha panik banget sih lo. Sebenernyaaa.....gue sok sok bikin kita nyasar
aja sih, Nis. Supaya bisa lama-lama jalan sama lo..cieeeee Praaaas hahahahaha,”
Nisa tersedak.
Tak membalas. Berlagak tidak mendengar gurauan Pras yang mulai tak lucu.
Ga lucu, Pras. Beneran. Ga lucu.
Juni
”Nis, siang ini ada acara gak? Lunch bareng yuk, sekalian deh lo kan pengen beli buku
buat anak anak panti lo.”
”Uuum, mau kemana dulu nih? Gue males juga kalo jauh jauh dari kantor,”
”Ga kok, paling sekitaran Mampang,”
”Oooh, gitu toh. Yaudah deh, Di, nanti gue kabarin lagi.”
”Okee, kabarin ya, soalnya kan gue pernah janji sama lo mau nunjukin tempat
makannya.”
”Oh, oke oke Di, santai lah. Ga usah di-consider
janji juga sih hahaha.”
”Eh serius Nis, sekalian jalan aja lah, lagian udah janji juga kan ke lo,”
”Ya ampun Adiiiii, santai aja sih kaku amat pake janji janji gitu segala,”
”Udaaah, pokoknya kita lunch
bareng. Oke Anisa Lazuardi?”
”Ummm, okay I’ll text you later, then, Adi Kusuma Wicaksono.”
Lelaki itu berlalu setelah mengacungkan jempolnya. Nisa menghela nafas, lelaki itu tak ada
lelahnya. Lalu teringat, ada janji yang harus dipenuhinya sore ini. Mengetik pesan,
memilih nomor kontak, Prasetyo Soebrata. Mengirim. Terkirim.
Juli
Me:
Hey, you! 21:32
Makasih traktiran bukaan nya, thanks udah
nganterin balik :) 21:32
------------------------------------------------------------------------------------------
Prasetyo Soebrata:
Yup, nevermind. Kan tadi sekalian jalan balik haha
22:45
-----------------------------------------------------------------------------------------
Me:
Tidur lo buruan. Jangan begadang. Nanti sakit aja 22:45
Kan masih ada proyekan sekolah jalanan minggu abis
lebaran 22:45
------------------------------------------------------------------------------------------
Prasetyo Soebrata:
Iya iya gue baru bikin agendanya nih 23:01
Duh jadi enak diperhatiin sama neng geulis :3 23:01
-----------------------------------------------------------------------------------------
Me:
Hahaha iya dong enengnya kan khawatir sama abang 23:04
Udah sana tidur pras 23:04
-----------------------------------------------------------------------------------------
Prasetyo Soebrata:
Ga janji ya neng, soalnya abang mau nonton bola
dulu sekalian
saur 23:20
-----------------------------------------------------------------------------------------
Me:
Woooo dasar laki, yaudah sekalian bangunin gue
saur ya pak 23:22
-----------------------------------------------------------------------------------------
Percakapan itu
selesai, habis untuk malam itu. Dan jantung Nisa berdebar empat kali lipat tiap kali telefon selular nya
berbunyi, tanda Pras membalas pesan singkatnya.
Agustus
Me:
Selamat idul fitri, Bung
Prasetyo Soebrata! 6:45
Maaf lahir batiiin :) 6:45
-----------------------------------------------------------------------------------------
Prasetyo Soebrata:
Ooy, sama sama ya 10:17
Minal aidin
walfaidzin. Sori ya nis gue suka becanda2 10:17
Salam buat keluarga :) 10:17
------------------------------------------------------------------------------------------
Me:
Haha ya kali deh pras, keluarga gue kan ga kenal
lo 10:20
Masa nanti gue bilang mama “ma, salam dari Pras,
minal
aidin katanya” lah pasti emak gue bingung haha 10:21
-----------------------------------------------------------------------------------------
Prasetyo
Soebrata:
Loh ya ga bakal lah mama ngomong kaya gitu 10:21
*cie mama :p 10:21
-----------------------------------------------------------------------------------------
Me:
Lah? Terus gimana deh 10:21
-----------------------------------------------------------------------------------------
Prasetyo
Soebrata:
Pasti gini: ma, salam lebaran dari Pras. Oooooh
Pras calon
menantu mama itu ya, suruh kesini makan ketupat
bareng 10:23
hahahahaha 10:23
------------------------------------------------------------------------------------------
Deg. Rasa nya itu detak jantung Nisa yang terakhir.
September
”Eh jadi gimana lo? Ga jadi jadi sih sama Pras?”
”Mel, apaan sih. Bahas aja terus.”
”Eh bulan syawal ini, bagus buat nikahan! Hahahha”
”Sopo sing mau nikah, Mel?”
”Itu loh Mbak Nik, si Nisa, udah nemu gandengan tapi belom dijadiin haha
capeeee deeehhh....”
”Lho? Iya Nis? Sama siapa toh? Pras Pras itu ya? Wah apik tenan loh
kalian berdua itu, pantes. Kok belum dijadiin Nis?”
”Aduuuh Mbak Nunik, si Meli didengerin, ih ngawur dia Mbak.”
”Hahahaha doain aja tuh Mbak, aneh sih tuh berdua, ga ada yang mau maju. BBM-an bales nya tiap dua jam sekali. Si Nisa
bingung jadinya Mbak sama si Pras. Udah sih, Nis. Jaman berubah, emansipasi
wanita! Ngaku aja buruan!!!!”
Mbak Nunik
tertawa. Meli, si biang kerok itu apalagi. Hanya tersenyum masam yang Nisa bisa
lakukan, namun entah mengapa ujaran Meli berkali-kali menggema kecil di ujung
benak nya.
Ngaku aja buruan. Ngaku aja buruan. Ngaku aja
buruan.
Oktober
”Gue tuh kesel Nis sama Donny, dia tuh maunya apa. BBM-in gue tiap hari, gombal gombal ga penting bikin gue ser-seran,
tapi mana? Ditembak apa ngaku
apaan juga enggak. Cape Nis gue diginiiin. Anjir, berasa ganteng apa tuh anak
ya? Berasa ga mau kehilangan
fans? Gue? Fans nya gitu? Anjiiiiing itu cowo nyebelin banget. Kesel sampe seubun ubun tau ga sih lo Nis?
Galau segalau galaunya gue. Mau nya tuh apa sih? Kalo emang he is not into me, ya ga usah kasih
harepan gue lah. Kalo emang demen
sama gue ya maju. Semaput tau gak sih. Nis, maaf lo gue cerewetin, gue cuma gatau
mesti gimana lagi.”
“Sabar, Del.”
“Gue muak Nis, udah cukup lah hampir 3 bulan gue diginiin. Naik turun banget ga ada kejelasan. Gue
sama Bilal aja lah, selama ini dia udah baik banget, usaha, jagain gue. Ga guna
ngarepin orang yang ga jelas maunya apa dan ga usaha buat gue. Fix. Ga ada nama
Donny lagi, biar mati aja itu anak.”
”Iya sayang, iya. Udahan ya nangis keselnya.”
”Okay, Nis . Thanks
for caring and listening my stupid moaning yah. Makaasiiiiiiiiihhhhhh
banget. You are such a nice person, semoga
lo ga ngalamin kejadian kaya gue ya. Bye,
Honey.”
“Bye. Take care.”
Klik. Telfon
akhirnya ditutup. Kepala Nisa berdenyut-denyut. Cerita Adel menyayat hati nya.
Terasa teralu familiar. Bipbipbip.
Telfon selular nya berbunyi. Ada
pesan masuk. Pras?
From: Adi Kusuma Wicaksono
I heard you are sick, are you okay?
Gue ke tempat lo ya, nis.
----------------------------------------------
November
“Nis, tuh udah ditungguin tuh. Cieee tukang ojek nya sekarang baru nih?”
”Mulai deh lo, Mel.”
”Hahaha, usaha nya oke banget loh, Nis. Udah sebulanan ini anter jemput lo terus. Pacar lo
bukan sih? Eh si Pras apa kabar? Kok ga pernah keliatan lagi?”
“Cabut ya, daaaaaaahhh……”
“Eh, jangan main cabut aja lo, itu
ada notes dari Mas Arif, katanya…….”
Nisa mempercepat
langkah nya. Muak dengan Meli dan segala pertanyaannya tentang apa siapa dimana
kemana. Apapun.
Desember
”Gue serius sama lo, Nis. Selama ini ya gue usaha buat lo, buat gue, buat
kita. Gue kepikiran lo terus.”
“……………”
“Gue sayang lo, Nis. Seriously.”
“……………”
“Nisa, izinin gue jagain lo terus ya.”
Jeda panjang.
Otak Nisa malfungsi. Lidah kelu, mati. Menahan nafas bahkan tak berikan efek
berarti.
Januari
Me:
Where? 18:37
--------------------------------------------------------------------------------
Adi K. Wicaksono:
I think i’m gonna be
late. The traffic is damn
horrible 18:45
--------------------------------------------------------------------------------
Me:
Okay 18:45
Just ping me when you
arrive, ok? 18:45
Be careful, honey. I
love you 18:46
--------------------------------------------------------------------------------
Adi K. Wicaksono:
I will. Love you too 18:46
---------------------------------------------------------------------------------
Januari
“Mas Pras, Mas Pras!! Itu kue nya kok ga dimakan? Biasanya mas suka makan
kue itu. Buatan kakak cantik loh mas. Baru aja dikirim. Kok ga mau sih? Tumben.”
”Haha gapapa, kamu aja yang makan, mas udah kenyang.”
”Bener nih? Kue Mas Pras buat aku aja ya? Boleh ga?”
“Iya, ambil aja, Dek.”
“Asiiiiikkkkk!!!”
Pras hanya
tersenyum simpul saat kue manis itu digenggam dan dibawa keluar kamar.
December 31, 2012
A Year Reflection
Well well well, 2012 is almost over and the 2013’s gate is
going to open in no time. It is quite interesting to look back, and realize
what I have been trough so far in this what-so-called water dragon for Chinese
people or the doomsday year for the Mayans—hey, look Mayans, this is the end of
this year, and we’re still alive!! Eat that! ha! Bottom line, this year has
been challenging for me. It was the most roller-coaster-like year I’ve ever
been trough. The moan, the whine, the panic, the hectic, the grin, the smile,
the laugh, all together, mixed up, yet to be honest, this year made me bigger.
If I may say, this year was like final test to upgrade my
life level. It was just like when you “meet the king” on video game, just like
Mario Bros tried to
kill the big great monsterous creature at the end of the stage. The emotions
and the tense were all up together. Well yeah, just take a look at my postings
this year, you will understand. The most challenging moment in this year was
for sure, the break-up. Hahaha it might be so lame that I mention that thing
first, but I’ve gotta be honest that it took the most emotion I had. The sob,
the moan, the whine, I had them much back then. It’s true. Even after that the
most miserable moment I’ve had so far, I was lost, and did so many stupidity
regarding my love life hahaha, but yeah, we will never be grown-up and wise
without being reckless and stupid, eh?
That moaning period led me to be such a workaholic person. I
mean, I tried to do as many activities as I could. And yeah, I did. I took part
at one of the biggest event in my campus, and I took a fairly big part on it.
It was quite hard and difficult, so much challenging. For that job, I’ve got to
push my self to my limit. That was the most challenging job I’ve ever had. I’ve
got to do all of the craziest deadline during my mid-term test week, finish all
of them simultaneously, maintain the priority, solve the problems,
blablablablabla, it was incredibly hectic. Moreover, not only maintain the job
and the class assignments, but also I’ve got to maintain my health which I
failed at. Yeah, I’ve got hospitalized back then for my irresponsibility towards
my own self. Sometimes it’s not that good to be that damn workaholic, force
your self over and over again, and never pay attention to your own self. Trust
me, it’s just such a disadvantage.
Some first-month of this year might be ghastly, yet even
storm has its end, eh? And so my year does. Although it was nasty at the
beginning, yet in the middle of the year to the end of the year, I felt
steadier, firmer, more poise, and sound. I felt like the sunshine began to rise
again on me—oh God, stop this terrible metaphor, yuck. In short, good thing
started to come to me after all that wretched period. I was sorta flirted on
someone, and finally, I fell for someone new, someone who is now my boyfriend.
Haha yep, I moved on. Not only that, my campus life was getting better, I mean,
I felt more comfortable with my campus friends, my campus was just like my
second home in Depok, I met some new people, making friends with them, I had an
annual project together with my Sasing Inggris 2010 pals to success our junior
in Petang Kreatif. It was fun! All of the works and efforts we’ve had back the,
and as the result, we won the third place!! Quoted from my friend, Ruth Vania,
we are so proud like a proud mom haha. Not only that kind of winning which
amused me, but I also got a exquisitely exotic and remarkable Lombok holiday
with my family which was a rare thing to do!! Even at the end of the year was
the final test week which was nastily exhausting yet I’m still contented as my
friends and boyfriend are around. Living the moment is the most proper phrase
to describe such moment haha.
Like I said, this year was the roller-coaster. This year was
like Mario Bros faced the Boss of the stage. Fortunately, I am the Mario Bros
who jump into the big green pipe after knocking down the boss of the stage. I
am level-upgraded. Well yeah at least, that is what I feel so about my self in
this year. I overcame the obstacles, maintained the emotion, got over the moan
and sob, learnt from the past, forgave people and my self, continued life,
until now live the moment. I am so glad that I could be on this phase, sitting
in my bed, typing this sorta dramatic story of this year so far. I am so
grateful that God still gives me opportunity to learn my life from my sob and
tear, yet still gives me the laughter eventually. I feel much complete, wiser,
and bigger, I suppose haha.
Well, thank God for the super-Mario-Bros-and-roller-coaster-like
360 days.
It was ROCK AND ROLL!!! J
December 30, 2012
Doa dalam Jarak
Pernah di suatu waktu kita berkata, “Jalan mana yang ingin kau tempuh?”.
Lalu, kau hanya menjawab enteng, ”Yah yang mana sajalah, asalkan Tuhan yang
beri.” Dalam senyum tipis mu, aku tahu. Kau tak inginkan seperti itu. Tapi aku
hanya terdiam, membiarkan lidah ini kelu tak berirama. Sore itu kita habiskan
bersama saja. Aku, kamu, dan pilihan kata pembentuk mimpi omong kosong mu.
Selama ini aku tahu, mana ada benda di dunia ini yang mampu membuat mu pasrah,
menerima apapun yang kau katakan ”asalkan Tuhan yang beri.” Pih. Mengenal Tuhan
saja, prestasi bagimu. Kamu, mahkluk paling kekar dalam pemikiranmu, manusia
paling keras kepala yang pernah ku tahu. Mana ada sejarah nya kau lelah dalam
waktu? Mana ada catatan nya kau kalah pada keadaan pembentuk hari? Tak ada,
kawan. Ini bukan kau. Namun aku hanya terdiam dan rantaikan jejak padamu.
Hingga sampai pada waktu kau buka kartu, kau menemukan realita pembentuk
dirimu. Ternyata dirimu tak seteguh dahulu. Zaman mengikismu, waktu
melemahkanmu. Entah lah, kau bukan dirimu yang dulu. Ketika jalanmu menjadi
jalanku, dan jalanku menjadi jalanmu. Kau tawarkan sejenak cerita cerita dahulu
antara kau dan mimpi mu. Mimpi yang kau gadaikan, mimpi yang kau lemparkan,
mimpi yang kau buang, mimpi yang kau telantarkan. Entah apa yang kau pikirkan
waktu itu. Waktu saat gadaikan mimpi mu. Kerasukan setan apa kau? Termakan rayuan
iblis apa kau? Semoga kau paham apa yang salah karena ini bukan diri mu. Semoga
kau tahu siapa yang kalah karena aku tahu ini menyiksamu.
Aku kini hanya diam, Sobat. Bergeming, mendoakan mu dalam jarak.
Untukmu, mimpimu, dan kehidupan baru mu.
The Talkative People
People communicate everyday. Mostly by speaking, creating
words, sounding voices. Some of them are so much talkative, so much bold, so
much vocal. They talk everyday, everytime, every minute, every second. They
platter without stuttering. Their lips move fluently. It’s just that flowing.
It’s just so flawless. They tell everything they feel, they see, they hear,
they smell. Everything. Until everyone around thinks they’re just blabbering
without pull stop. Most of them, who are keen on talking, seem cheerful and
lively everyday. They seem so open to everybody. Knowing them is just like
reading a manual book. So easy to read, so readable.
However, have you ever noticed that people like them are
just disguising?
Disguising from their own feeling. Hiding their emotions.
Covering all bad side of their own selves?
Because, believe it or not. Those people who talk much are
not actually “talking” after all. They are not the people of happiness. They
are not the joker. They are not the books. They hold back. They are not
mouth-slippering, but actually mouth-zippering. Mouth-zippering from their own
feeling. They just keep wondering if it’d be appropriate to be told. They just
keep hold it, cover it with smile, giggle, laugh, or even stupid jokes.
They just hold it. In slobbering, blabbering, chattering,
mumbling mode.
November 16, 2012
Berjeda Yang Melelahkan
Berjeda yang
disengaja berbeda dengan berjeda yang tiba-tiba. Berjeda tetiba itu ya seperti ini. Aneh
sebenarnya. Kau hanya fokus kepada satu. Kekosongan. Ini sering terjadi ketika
kau muak atau bosan. Atau terjadi ketika waktu berlari. Ketika semuanya sesak
dan penuh. Berjeda itu memang terkadang membingungkan. Kau membutuhkannya ketika kau butuh untuk
terlepas. Tapi kali ini rasa nya lain. Jeda ini justru mengikat keras. Jeda ini
teralu luas. Teralu lepas. Sehingga kau hanya termanggu. Bingung akan
kekosongan. Penat karena kelapangan. Aneh memang, tapi terjadi. Ketika menghela nafas tak cukup. Ketika udara segar pun tak berhasil. Tenggorokan
tercekat. Nafas berat. Mata berkunang. Kepala panas. Sesak karena kebosanan.
Berjeda yang tiba-tiba. Berjeda yang tak disangka. Berjeda tanpa rencana. Berjeda yang melelahkan.
Consumption, Needs Or Prestige?
Consumption is something closely
related to our life. We sleep, eat, watch, travel to somewhere, and soon, and
those all stimulate us to consume almost everything in our life, for instance
foods, beverages, dresses, suits, gadgets, and so on. Consuming is sort of our
life style today. Believe it or not, realize it or not, we’ve been doing it all
over the day. Even sometimes, we just buy—or let’s say “consume”—anything that
it might be unnecessary. The number of city malls could be the indicator how
big the existence of consumption life style among us. Malls, with their own glamour,
serve people fancy stuffs which are so appealing to be bought. Malls also have
their own ways to persuade people to buy their products. For example, the
annual discounts, the member discounts, the night sale, and several pleading
ways could be used to attract them buying compulsively.
The factor
of consuming behaviour around people nowadays might be because of three reasons.
First, the imperialism and colonialism. Those things give impacts to the
colonized country, since the colonizer’s lifestyle somehow becomes the role
model for them, or at least it is adopted or internalized. Hence, they might
consume anything the colonizer did. Second, the economic growth. Since the
economy is developing, the production of some products is gaining, too. It
might be because there is an expanding in social classes which is followed by
the raise of needs and living materials. People tend to have more demands, and
more demands mean more consumption. Third, the development of technology. We
acknowledge each others that technology becomes the major factors of all
persuasions. People can easily get information about these and those by
clicking here and there in internet, listening to radio, watching massively the
tv, and so on and so forth. The social media? It is enormously connected to us.
Facebook, twitter, line, path, and so on, make us effortlessly knowing the
trends and any kinds of “what-so-happening” things and stuffs nowadays. It is
intense and major fast. More over, technology makes people easier to buy
things. We all know online shop, it is the matter of clicking-here-and-there
shopping. You even don’t move your body to get the products.
Consuming
nowadays is not about fulfilling your needs. It is more than that. There is a
shift in consuming behaviour in our society. It is occasionally the matter of
image branding, how you build your self and in what way you want people judge
you and see your self. People will consider you as an upper-class person when
you have your brand new i-phone in your hand. The better products mean the
better self image. Do you remember the remarkable events which people lined up
in Senayan City only for buying the discount Crocs?
That showed how much Indonesian people got too much attached in consuming
behaviour.
All and
all, we do consume in every day in our life. We sometimes “shop till drop”. We
even don’t know what we shop for. However, the sense of gaining prestige is
somehow reflected in our consuming behaviour. It is not about fulfilling needs,
yet it is constructing self branding.
November 08, 2012
Be patient, Patient :)
Hellow, long time no see. Im so sorry that I cant catch up
the whole things in my days lately. It was because I was sorta hectic to do
those assignments and extra-extra activities in my campus. Sound so much busy,
eh? Hahaha Im not really sure, I guess either I did really bust back then or
not. However, I felt like I had a lot of things to do back then.
Well well well, those horrible activities led me to this
condition. Yeah, I have just come home from hospital. I was hospitalised almost
a week because of my recklessness and own mistake. I was not good enough for my
self. I kept forcing my self to stay up late and did not pay attention on my
diet. As a result, yeah that tyfus sickness was all around me. my temperature
was 39 C, and the rest was history. I just lied on my bed in hospital, did
nothing. Worse, I skipped 2 mid term tests—yeah, it is now still mid term test
week, poor me, eh?—lucky, my lecturers understood and they would give me
another make up mid term tests the other week. Bless them. Moreover, I lost my
big opportunity to be a moderator in one of my campus events, and also one of
focus group session which I had to attend since I was chosen to be one of the
candidates of international seminar. And yeah, I cant be there. I lost the
opportunity for my own recklessness. I lost them all.
Such a lesson. Once more, to be responsible to your own life
and health. Health is so damn precious. You always can feel it once when you
get sick. It is unfortunate, actually if you do so. Because, you could be me. the
one who have just realized what has been vanished after you know it was. Love your
life, love your self. Don’t overwhelm your self. It just will give you
disadvantages.
Be healthy. Be balance. Be happy.
J
August 15, 2012
Merelakan Rindu
Merelakan rindu.
Seorang teman
pernah katakan
Merindulah
Tak ada yang
salah
Hanya saja,
Relakan saja
Kalau memang
tiada sama
Perasaan yang ada
disana
Merindulah,
Tak ada yang
kalah
Hanya saja,
Ikhlaskan saja,
Jika memang yang
disana
Mengabaikan
adanya
Merindulah
Dan biarkan waktu
Yang buat kau
Terbiasa
July 28, 2012
Eyeliner, Indikator Keberhasilan Perempuan
Ini alasan saya kenapa saya lebih senang menggunakan
angkutan umum untuk pergi kemana mana. Selalu ada cerita. Entah itu sesuatu
yang menyentak saya untuk bangun, sindiran halus yang buat cekit-cekit kecil di
hati, sampai banyolan yang meledakan tawa saya.
Namun untuk kali ini, kategori nomor dua yang hadir di pagi saya.
Pagi itu pagi yang sederhana. Cantik seperti biasanya. Hari senin, dan hari yang sama untuk memulai realita. Begitu pula saya. Saya harus kembali ke Depok, kota panas menyengat, representasi seperdelapan panas neraka. Seperti biasa, saya pergi menggunakan angkot dari perempatan rumah saya dan nanti nya disambung bus ke arah pasar rebo.
Nah, di angkot itu lah cerita kategori kedua itu dimulai.
Diawali dengan naiknya dua mbak-mbak cantik nan rapi ke angkot. Awalnya sih saya santai aja, mereka berdua bercakap-cakap layaknya teman sepermainan *ini apa sih* terus lama kelamaaan, pembicaraan mereka mengarah ke sesuatu yg membuat mata saya menyipit dan hati saya cekit-cekit.
Eye liner.
Siapa perempuan yang baca tulisan saya, ga kenal sama eye liner?
Yah, kalo ga tahu eye liner, ini deh nama lainnya, sipat mata atau celak mata *sumber: mama dan mak aji, nenek tetangga sebelah rumah
Kalo masih belum inget juga, udah bayangin aja, ada aspal cair hitam yang nempel di garis kelopak mata dari ujung kanan sampai kiri.
Ya semacam itu lah.
Nah, mbak 1 itu ceramah ke mbak 2 karena si mbak 2 pakai eye liner nya berantakan. Ga bagus gitu bentuk nya. Kalo istilah mbak1 nya sih "menyon-menyon". Entahlah saya juga ga ngerti itu terminologi dari mana.
Si mbak 2 membela diri dengan alasan emang ga bakat dandan dan tadi buru-buru (alasan yang familiar buat saya hahaha) Tapi, entah itu si mbak 1 kader dari Partai Make Up Indonesia atau apa, dia malah cerewetin si mbak 2 dengan semangat membara dan berapi-api. Dia bilang gini:
"Jadi cewe tuh paling ga bisa dandan dikit2. Supaya ga malu2in diajak kondangan. Modal tuh"
Waaaaah, mendelik lah mata saya
Ngilu lah ini dada saya
Cekit-cekit lah hati saya yang lembut ini
Kenapa hati saya cekat-cekit?
Soalnya, sudah dari kapan tau saya punya eyeliner. Sudah dari kapan tau saya belajar pake. Dari yang bentuknya cair, pensil, spidol lah, tetap aja ga bisa bisa. Kalo di twitter, saya biasanya pake tagar #emanggabakatcakep
Namun untuk kali ini, kategori nomor dua yang hadir di pagi saya.
Pagi itu pagi yang sederhana. Cantik seperti biasanya. Hari senin, dan hari yang sama untuk memulai realita. Begitu pula saya. Saya harus kembali ke Depok, kota panas menyengat, representasi seperdelapan panas neraka. Seperti biasa, saya pergi menggunakan angkot dari perempatan rumah saya dan nanti nya disambung bus ke arah pasar rebo.
Nah, di angkot itu lah cerita kategori kedua itu dimulai.
Diawali dengan naiknya dua mbak-mbak cantik nan rapi ke angkot. Awalnya sih saya santai aja, mereka berdua bercakap-cakap layaknya teman sepermainan *ini apa sih* terus lama kelamaaan, pembicaraan mereka mengarah ke sesuatu yg membuat mata saya menyipit dan hati saya cekit-cekit.
Eye liner.
Siapa perempuan yang baca tulisan saya, ga kenal sama eye liner?
Yah, kalo ga tahu eye liner, ini deh nama lainnya, sipat mata atau celak mata *sumber: mama dan mak aji, nenek tetangga sebelah rumah
Kalo masih belum inget juga, udah bayangin aja, ada aspal cair hitam yang nempel di garis kelopak mata dari ujung kanan sampai kiri.
Ya semacam itu lah.
Nah, mbak 1 itu ceramah ke mbak 2 karena si mbak 2 pakai eye liner nya berantakan. Ga bagus gitu bentuk nya. Kalo istilah mbak1 nya sih "menyon-menyon". Entahlah saya juga ga ngerti itu terminologi dari mana.
Si mbak 2 membela diri dengan alasan emang ga bakat dandan dan tadi buru-buru (alasan yang familiar buat saya hahaha) Tapi, entah itu si mbak 1 kader dari Partai Make Up Indonesia atau apa, dia malah cerewetin si mbak 2 dengan semangat membara dan berapi-api. Dia bilang gini:
"Jadi cewe tuh paling ga bisa dandan dikit2. Supaya ga malu2in diajak kondangan. Modal tuh"
Waaaaah, mendelik lah mata saya
Ngilu lah ini dada saya
Cekit-cekit lah hati saya yang lembut ini
Kenapa hati saya cekat-cekit?
Soalnya, sudah dari kapan tau saya punya eyeliner. Sudah dari kapan tau saya belajar pake. Dari yang bentuknya cair, pensil, spidol lah, tetap aja ga bisa bisa. Kalo di twitter, saya biasanya pake tagar #emanggabakatcakep
Saya jadi
mikir, segitu esensial nya eye liner buat perempuan? sampai-sampai indikator
'malu-maluin ke kondangan' diukur dari rapi dan sempurna nya garis semi aspal
itu mengukir di ujung kelopak mata?
Entah lah,
hanya Tuhan, Mbak 1 penggiat eye liner itu, dan mungkin sales oriflame yang
tahu.
Yaaaaa,
tapi kalo dipikir-pikir, omongan mbak 1 itu ada benarnya juga, sih.
Maksud
saya, ga ada yang salah dalam usaha. Apalagi usaha memperbaiki atau
mempercantik diri, asal ga berlebihan sih sah sah saja. Lagian, kalau pribadi
kita, secara fisik dan kepribadian, menarik dan enak dipandang, kan kita juga
yang untung. Orang di sekitar kita juga untung, yaaa pada kasus mbak-mbak tadi,
"ga malu-maluin diajak kondangan" lah istilahnya.
Mungkin
pertemuan saya dan mbak-mbak pagi tadi merupakan cara Tuhan untuk mengingatkan
saya supaya sedikit lebih perhatian sama penampilan saya. Mungkin, Tuhan
mempersiapkan saya untuk lebih 'luwes' dan 'enak dipandang' ketika saya harus
menghadapi dunia kantor. Yaaaa, kan ga lucu aja ke kantor, meeting sama klien,
tapi muka saya gini-gini aja kaya anak SMA mau rapat OSIS (anak SMA sekarang
aja lebih jago pake eyeliner dibanding lo, nir) hahaha
Well,
dengan hati yang masih setengah cekat-cekit, saya menghela nafas dan membatin, "Sudah
saat nya saya berdamai dengan eyeliner yang berdebu di pojokan kamar sana"
Semoga saya
cepat lancar pakai eye liner.
Semoga saya
ga malu-maluin diajak kondangan.
Amin.
July 14, 2012
Tuhan Sialan
Tuhan terkadang
lucu. Selalu punya cara untuk mengingatkan umat-Nya. Akhir-akhir ini saya muak
dengan dunia perkuliahan saya. Seakan-akan hidup saya dihabiskan untuk bangun,
siap-siap ke kampus, masuk kelas, mencatat materi dosen atau tertidur di kelas,
keluar kelas, mengurusi beberapa hal diluar perkulihan, bicara ngalor-ngidul
bersama teman saya, pulang ke kosan, mengerjakan tugas, tidur dan bangun
keesokan pagi nya dengan aktifitas yang kurang lebih sama. Jujur saja, saya
mulai bosan dengan jadwal hidup yang seperti itu. Saya beberapa kali mengeluh
kepada beberapa orang dekat atau seringkali mengeluh di dalam hati mengenai
datar nya kehidupan perkuliahan saya akhir-akhir ini. Monoton, bisa dikatakan
demikian. Saya lantas mengeluhkan keadaan ”kenapa sih gue mesti kuliah di
Depok? Ga ada apa-apa. Ngebosenin. Kenapa ga di Jogja atau Bandung deh paling
ga? Gue pasti ga akan bosen.” Lucunya, semua kesinisan saya mengenai hidup
dewasa ini seakan dibalas oleh Tuhan dengan cara yang cukup sederhana.
Hari ini entah
kenapa migrain saya tak kunjung reda. Padahal malam sebelumnya, saya sudah
minum obat penghilang rasa sakit yang paling ampuh yang biasa saya minum dan
saya juga sudah tidur lebih cepat, namun apa daya, si pusing masih betah di
kepala saya. Hari ini pula jadwal kuliah saya sedang kosong. Dugaan sementara
saya, kebosanan pasti akan melanda saya dengan migrain, jadwal kuliah kosong,
dan kosan yang tak kalah kosongnya. Karena hal tersebut saya memutuskan untuk
pergi ke bank untuk menabung dan mencari udara segar. Lantas saya pun menuju
bank yang letaknya di dalam kawasan kampus saya. Rupanya, ketika naik bikun,
saya turun di halte yang salah. Saya turun di halte Balairung, bukan di halte
MUI. Artinya, saya harus memutar lebih jauh karena jalan tembusan Balairung-Perpus
pusat (bank itu ada di dalam gedung perpus) ditutup selama masa renovasi
Balairung berjalan. Jadilah saya mengambil rute memutar Balairung.
Saya berjalan
perlahan sambil menikmati angin yang memang berhembus sepoi-sepoi. Ketika
berjalan, saya menoleh ke kanan, Balairung, tempat mimpi-mimpi saya mulai makin
merekah dan bertumbuh. Lucu sekali, mengingat beberapa tahun lalu ketika saya
pertama kalinya merasakan debar yang luar biasa untuk bisa menjadi seperti saya
yang sekarang, mahasiswa. Mengingat saya, Nirma 17 tahun, memiliki semua
manisnya dan gelora mimpi untuk menjadi saya masa kini. Pada masa itu, Bedah
Kampus UI 2008, Nirma 17 tahun tanpa ragu melemparkan pertanyaan-pertanyaan
seputar bagaimana itu kehidupan kampus. Mulai dari macam-macam mata kuliah,
cara belajar, perbedaan antara kuliah dan sekolah, prospek kerja lulusan, bla
bla bla bla bla bla bla. Sungguh haus akan gambaran pernak-pernik perkuliahan.
Betapa ”muda” jiwa saya waktu itu. Tidak takut akan mimpi-mimpi saya. Tidak
ragu dengan segala kemungkinan yang ada dalam usaha mencapai tujuan saya.
Langkah perlahan
saya lanjutkan, dan pikiran saya melayang pada masa awal-awal saya diterima di
universitas impian saya ini. Ya, pendaftaran ulang. Saya ingat, di gedung samping rektorat itu, dengan
setia ibu dan ayah saya menemani saya untuk mendaftar ulang. Mungkin, hal ini
terasa sepele, tapi di mata saya, hal ini sungguh tak tergantikan. Hari dimana
kau bisa melihat dengan jelas rona bangga ibu mu walaupun guratan kelelahan tak
dapat ditutupi dari wajah nya yang teduh. Begitu juga ayah saya, betapa kau
merasakan lembutnya tatapan dari seorang ayah yang kuat dan tegas. Hal seperti
itu sungguh tak ternilai. Membuat orang tua bangga adalah hal yang paling
menakjubkan yang bisa kau lakukan dalam hidup.
Kemudian, pikiran
saya kembali ke hari ini.
Sejenak saya
terdiam,
Lantas saya
tersenyum,
”I’m sorry, God. I screwed up my self.”
Tuhan cukup memberikan saya migrain berkepanjangan, jadwal
kuliah yang kosong, niatan menabung, bikun yang salah, dan angin sepoi-sepoi
untuk mengingatkan saya,
Menyindir saya,
Memberikan sentilan.
Betapa
sesungguhnya, hidup saya sangat indah dengan segala prosesnya
Betapa
seharusnya, saya mengeha nafas dan senantiasa bersyukur
Betapa
semestinya, saya bisa lebih kuat melawan kepenatan yang manusiawi ini karena,
Betapa
sesungguhnya, Dia telah banyak memberikan apa yang telah saya impikan, yaitu
Saya saat ini.
Kalau saja Tuhan
itu teman sebaya saya, pasti saya sudah berkata,
”Sialan lo, Han.
Bisa aja nyindir gue,”
Sandiningtias, 29 Desember 2011
Perpustakaan Pusat UI, bilik meja belajar
ke-4, kursi kiri, 12:42
Jatuh Cinta Pada Kata-Kata
Pernah kah kau jatuh cinta?
Bukan pada seorang manusia
Tapi pada rangkaian apik kata-kata?
Hey, saya sedang menikmatinya
Menikmati hangatnya kata-kata itu mengalir ke dalam darah
Menikmati aroma manis dari pilihan diksi yang tertata pada tiap baris
Menggigil dalam tanda kekaguman yang melapisi bulu roma
Kau tau?
Kata adalah kuasa
Kuasa atas jiwa mu
Jika kau memang tak sadar itu, maka
Coba lah untuk merenung
Betapa banyak waktu habis
Hanya untuk mengenal huruf
Yang nantinya akan berubah kata
Yang nanti nya akan kau dengar
Di tiap sudut ruang gerak
Di tiap sudut hati
Lalu kau terbawa akan kata-kata
Entah kata-kata siapa,
Namun kau tahu, kata itu memiliki makna
Lalu kau terdiam, terhanyut akan kata-kata
Kata-kata yang mungkin bisa mengubahmu
Mengusikmu, menyisipkan bisik-bisik pesan dari Tuhan
Atau dari malaikat, atau dari iblis
Atau entah lah itu apa dan siapa
Dan ya, untuk kali ini Adam
Kau menangkan aku
Dengan kata-kata mu
Bukan kau yang taklukan ku
Tapi diksi mu
Dan ya, benar
Untuk tiap baris dan bait yang menghujam
Aku mencintai kata-kata mu.
Bukan pada seorang manusia
Tapi pada rangkaian apik kata-kata?
Hey, saya sedang menikmatinya
Menikmati hangatnya kata-kata itu mengalir ke dalam darah
Menikmati aroma manis dari pilihan diksi yang tertata pada tiap baris
Menggigil dalam tanda kekaguman yang melapisi bulu roma
Kau tau?
Kata adalah kuasa
Kuasa atas jiwa mu
Jika kau memang tak sadar itu, maka
Coba lah untuk merenung
Betapa banyak waktu habis
Hanya untuk mengenal huruf
Yang nantinya akan berubah kata
Yang nanti nya akan kau dengar
Di tiap sudut ruang gerak
Di tiap sudut hati
Lalu kau terbawa akan kata-kata
Entah kata-kata siapa,
Namun kau tahu, kata itu memiliki makna
Lalu kau terdiam, terhanyut akan kata-kata
Kata-kata yang mungkin bisa mengubahmu
Mengusikmu, menyisipkan bisik-bisik pesan dari Tuhan
Atau dari malaikat, atau dari iblis
Atau entah lah itu apa dan siapa
Dan ya, untuk kali ini Adam
Kau menangkan aku
Dengan kata-kata mu
Bukan kau yang taklukan ku
Tapi diksi mu
Dan ya, benar
Untuk tiap baris dan bait yang menghujam
Aku mencintai kata-kata mu.
July 13, 2012
Morning Blessed
You know what I like being a part of morning? The feeling of being blessed. yes, being blessed. when you wake up for the first time in the day, consciously, you feel your first breath. that is the sign of your existence as a human living. you feel your eyes, body, head, arms, hands, all of your self work from one part to another else. That's the feeling of being alive. then you feel the sun rise from the lattice of the vent or the slight slit of your window. Then either you hear the chirping birds or the buzzing cars, it still the sign of the universe to get you up. And the universe will conspire with sun, to make a warmer heat for you. it is like an alarm. the alarm which makes your eyes wide opened. Do you feel like God intentionally asks the universe to wake you up? Me? yes I do so. Hence, how can't you be so grateful when the whole universe try to awake you? try to bring your conscious? try to make you alive? try to give you the opportunity to be the part of the most marvelous atmosphere in the world? It is the most wonderful part in the morning. You feel so special for God picks you as The Given-One. You are chosen to be born again, to live again, to learn again. Not everyone is given the opportunity to sense the beauty of a morning. Morning is enchantingly beautiful and exquisitely blessed :)
Subscribe to:
Comments (Atom)
