Showing posts with label mumbling stuff. Show all posts
Showing posts with label mumbling stuff. Show all posts

May 13, 2016

Entah sudah berapa lama saya tidak kembali mengetik dan menulis hal hal berserakan yang ada di kepala saya. Sudah teralu lama dan teralu berantakan terpendam. Sempat beberapa kali saya berencana untuk kembali melakukan hal yang saya suka—sebenarnya juga bukan suatu hobi atau bagaimana sih, hanya saja terkadang saya merasa dengan menulis, lega menjadi salah satu hasilnya. Jadi yah, anggap saja hal yang melegakan. Mungkin karena sudah setahun ini saya digerus oleh kenyataan. Kenyataan umur 20-an. Kalau kata teman teman saya quarter life crisis, bahasa keren nya. Mulai kenal dengan dunia nyata bukan buaian seperti yang biasa digunakan Mbak Syahrini lengkap dengan tagar pada tiap postingannya. Cari kerja. Cari pengalaman. Cari duit. Kerja keras nangis darah peres keringet otak dan kuras hati. Yah namanya juga anak baru nyemplung, anak bau kencur. Jadilah, semua konsentrasi, tenaga, dan emosi tercurah ke pekerjaan baru yang sebenarnya sih mungkin belum seberapa dari yang lain lain. Tapi, karena belajar bekerja itu lah yang sering kali membuat saya lupa melegakan diri saya. Gak cuma nulis kok. Saya biasanya juga suka nyanyi nyanyi sendiri gak jelas atau baca buku biar keliatan kritis sophisticated. Pulang kerja, bilang capek, lalu goler goler setelah mandi lantas tepar ngorok, sok sok merasa lelah hasil dari kerja peras otak tenaga perasaan hari itu. Terus berulang, lalu ngeluh, “Duh sumpah ya, udah umur segini kerjaan banyak, ga bisa seneng senang lagi.” Meh. Harusnya saya gak gitu gitu amatlah. Harusnya ga usah sok sok kelelahan lantas lupa hal hal yang bisa buat nafas lega. Harusnya ya saya lakuin aja hal hal yang saya suka untuk melepas lelah. Ngapain kek, nulis random kaya gini kek, nyanyi nyanyi ga jelas di smule kek, atau baca buku chicklit. Jangan manja akibat sombong ah. Sok sok an kerja keras lalu menye bilang kecapean sampe ga punya waktu buat nyenengin diri sendiri. Dasar mental Nutrijell. 

November 12, 2014

Surat Untuk Gadis

Hai Gadis,
Apa kabar? Sudah lama tak jumpa dan mengobrol seperti biasa. Lama sekali. Waktu sungguh cepat berlalu, ia tak lagi merangkak seperti masa muda dulu. Ia sekarang lebih kekar dan lincah, sudah mampu melaju pesat, berlari tanpa tengok kanan kiri.

Apa kabar, Gadis? Rindu rasanya tak berbincang. Membahas hal hal sepele yang seenak jidat masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Mencibir kejadian yang sebenarnya lumrah mampir di pagi hari. Mencaci siang karena panas nya matahari. Mengutuk malam yang selalu datang bersamaan gelap. Atau menerawang bodoh tentang masa depan. Apa dan jadi apa. Mengapa dan jawabannya. Tak perlu ada fakta. Tak perlu serius. Karena hidup adalah apa adanya.

Hidup di sini cukup berbeda, Gadis. Tak tahu bagaimana hidup mu di sana. Di sini, semua berlarian, semua berkejaran. Dengan orang lain, diri sendiri, dan waktu. Iya. Waktu yang semakin dewasa. Semua nya berkompetisi. Tinggal saya di sini yang mulai kebingungan. Tertatih tatih mencari celah. Ingin sekali rasanya saya juga ikut berlari. Berlari mengejar atau berlari menginggalkan mereka. Rasanya mereka tak pernah berhenti, Dis. Ada yang pernah bilang bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang selalu jalan—berlari—ke depan. Tanpa menoleh ke belakang. Lurus. Fokus. Apa iya, Dis? Apa benar? Saya pernah kali melakukan nya, terus lurus ke depan. Tapi mungkin pertanyaannya, apa saya benar benar lurus fokus? Atau sebenarnya saya tidak berlari seperti mereka namun saya hanya berjalan? Berjalan melewati hari? Apa saya salah berjalan dan tidak berlari seperti yang lain? kenapa saya merasa bersalah karena tidak ikut berlari?

Saya mulai letih, Gadis. Entah karena saya letih untuk berlari lagi atau saya mulai letih berjalan kaki.

Begitulah, Dis. Sekarang kehidupan mulai lain, ya? Hidup bukan lagi sekedarnya. Banyak yang bilang hidup itu harus bermakna. Yang mana sih yang bermakna? Sampai sekarang saya pun masih belum tahu jawabannya. Masih belum paham. Mungkin ini sebabnya saya rindu kamu, Gadis. Kapan lagi kita berbincang?



September 15, 2013

Lalu dan Lagi

Lalu kau berpacu dengan waktu. Dia yang dituduh paling gila. Karena memang memabukan. Menyesatkan. Memuakkan. Karena waktu itu sekarang. Bukan yang lalu atau yang di depan. Tapi jam ini detik ini lagi.

Lalu kau mengumpat. Mengapa jantung berdetak dengan ritme yang sama. Mengapa detak jatuh pada waktu yang sama. Tak bergerak. Hanya statis. Kau menampar dirimu sendiri. Menumpahkan keringat yang kau sebut kejemuan. Karena waktu itu sekarang dan bukan kapan depan.

Lalu kau mulai mengigau. Dalam sadarmu. Karena kau tahu bukan ini yang diinginkan. Ini hanya waktu mengelabui. Karena ia bersikeras tak ingin menjawab. Bergeming. Kau tanya dimana, kapan, apa, mengapa, siapa. Sunyiyang kau dapat. Kau dungu. Iris nadi dirimu sendiri jika kau tahu itu salah.

Lalu kau sadar. Kau bukan dungu. Kau hanya harus menunggu. Bersabar katanya. Iya. Karena siapapun yang bijak hanya akan tersenyum. Melafalkan berbaris kata dan kalimat sakti yang dirasa mujarab. Tapi yang kau tahu itu hanya sampah. Karena sang bijak pun tak berpijak di tanah yang sama. Karena yang bijak hanya melirik, paling benar ya sebatas mengobservasi, memantau. Apapun itu, berkaitan dengan hati dan pikiran, selalu tak sejalan. Tak pernah terpecahkan.

Lalu kau bertanya. Lagi. Pertanyaan yang sama. Kapan. Mengapa.


Lalu kau berpacu dengan waktu. Kali ini bukan ia yang keparat, hanya saja kau yang sudah genggam khitah.

July 14, 2013

Jika hanya ini yang semesta mau, biarlah. Tiap kehidupan miliki ceritanya sendiri. Yang terkadang sanggup dibagi atau hanya sebatas ditutupi. Tak semua makna berurusan dengan nyata, dan tak semua yang galak itu menyala. Dan jika ini berurusan dengan semesta, biarlah. Karena hanya angin yang membawa, berbisik, dan langit membaca. Tapi jangan salahkan jika hati ini sedikit mencela, karena selalu ada bias warna pada laut. Yang memanjakan insan dengan segala kisah legenda dan imajinasi berasas nafsu. Tak ada yang tahu, karena sering semesta membungkam. Karena langitpun tak tahu, anginpun tak mendengar. Lalu seringnya menyalakan siapa? Matahari?

Jika ini yang semesta ingin, berilah. Karena terkadang kita hanya bisa merenyuk padanya. Berdoa, katanya. Padahal yang diminta adalah kemunafikan dan segala raya yang mematikan. 

April 03, 2013

Dicurangi Rindu


Aku dicurangi rindu
Dia datang tak kenal waktu
Padahal yang ku minta hanya separuh
Bukan letupan dan gemuruh

Aku selalu dicurangi rindu
Atas nama gelisah dan resah
Mengaduk jadi satu dalam amarah
Terbakar dalam bentuk air mata memadu

February 07, 2013


Have you ever felt that the space is getting smaller and you just don’t know what to do? All you know is just you just need to scream out loud with no one can hear it, for you know it is the sign of your flaw, then you tend not to show so. However, things would become so much more irritating if you just can “bare your soul”. Hence, you just hold your tongue, and breathe. Inhaling and exhaling. Hope that your body and your mind speak more than your emotion, and lead it to the edge then be cast away somehow. Holding your emotion is helpful at times. You feel calm, but occasionally since you’re just holding it, there is a possibility that it’d be gone. It could be back somehow, with a greater tense. Your head is just scrambled. You can barely breathe. You have no control of your body, especially your mouth and your hands, and your feet. That holding tongue? Well, we’d be better not to mention it. It’s gone. This is what we called The Roller-coaster Effect. In my case, it does happen a lot. Like it or not, when it comes, I have to do all of my efforts to enlarge, expand, and swell the space. The space in mind. Inhaling, exhaling, or crying if it’s necessary. If it still doesn’t help. I’d better go, or cry, or write, or go, or sing, or scream, or—actually I still haven’t got the way how. Screw my self, I’d better be off. 

January 29, 2013

Semoga Surat Ini Sampai


Selalu ada rasa terselip untuknya. Tersimpan rapi rapat di ujung hari. Tiap hembus yang terganjal dari senyum rahasia. Tak tahu seharusnya. Biarkan semuanya seperti itu. mungkin, tak ada salah nya bergeming berjarak, bahkan tak bersuara. Merasa sejauh memandang, merindu sejauh desah angin meradadang. Tiap kali ia buka suara, telinga insan lain bekerja. Tiap kali ia lepas bungkam di wajahnya, riap air mata tertahan haru. Lalu menyembul bulir tak nyaman di ujung hati. Mengganggu.

Dia mungkin hanya akan melihat sungging senyum. Dia tak tahu apa yang sebenarnya tersimpan. Karena dia memang tak akan pernah tahu. Dan enyah adalah yang diinginkan kali ini. Didoakan pergi, tapi ditahan di ekor. Dihembus melayang, tapi ditarik benang pemberat. Lalu jejak rasa mau tak mau menggelayut. Padahal sajak patah hati sudah di ujung tanduk. Lalu dia bisa apa?

Menelan rajut nyata hidup bulat bulat sudah biasa. Sudah muak. Hampir mati rasa. Sama biasanya dengar omong kosong mampir menyindir di tepi mimpi tiap kali rintik menghampiri tanah memberikan segaris harapan. Dia mengerti apalah arti harapan baginya? Seperti gerimis menyembul di balik awan kelam tiap kemarau. Tak banyak. Sementara.

Terkadang ia berpikir, angan itu tak hampa. Hanya kadang berpindah. Dari satu tujuan ke tujuan lain. Dari satu bahasa ke bahasa lain. Dari satu musim ke musim lain. Tapi nista dikatakan, angannya pun stagnan. Tak perpindah. Justru kian mengisi. Salah disebutnya karena insan ini hanya boleh menyentuh bayangan tanpa menggenggam tangan. Imaji hanya boleh dirangkai tanpa jeda aksi setelahnya. Mengeluh tiap kali bayang nya melaju di tiap gelintir cahaya. Lantas melenguh jadi sandaran semata sebab tuhan pun tak menjawab.

Tak pernah diniatkan untuk menyanjung siapapun, bahkan karya tuhan paling agung. Karena terkadang rasanya tak pantas, tak sesuai, tak pas. Tapi dalam hati mengiba, siapa tahu insan ini berpaling lalu guntur tak tega, lantas menyampainkan pesan pada tuhan yang nampaknya sedikit bingung. Lalu Dia membalikan telapak sejalan keadaan. Tapi seperti orang katakan, hati siapa yang tahu. Hati siapa juga yang dengar. Mereka bilang tuhan yang punya kuasa. Tapi mana?

Jadi ya sudah.
Dari dalam dia mendoa.
Semoga surat ini sampai.
Semoga surat ini sampai.


January 10, 2013

Saya Iri


Saya iri
Pada kamu yang bisa menelanjangi dan telanjang
Dimanapun kamu bisa
Ke siapapun kamu mau

Saya iri
Pada kamu yang bicara jalang meradang
Lalu melukiskan bayang di kanvas paling kelam
Biar semua fasih tentang jiwa mu
Jelas. Pekat. Tebal.

Saya iri
Pada kamu yang menyumpahi
Serapah rendah tanpa kajian
Hanya emosi
Deru amarah melengkapi

Saya iri
Pada kamu
Mengubah sampah jadi lumrah

January 01, 2013

Dialog Januari-Januari


Januari

I’m not that into him kok”
”Haha, orang juga tau lah nis, lo gimana, Adi gimana. Udah ah, gue cabut dulu ya. Daaah,”

Selalu semudah itu dia datang dan pergi, semaunya. Tinggal Nisa yang merasa kosong setelahnya. Rasa penuh yang sementara, lalu lenyap tak bersisa.

Februari

“Mbak, apaan tuh?”
“Coklat. Buat suami gue.”
“Ah elo, udah tua juga kelakuan masih aja kaya abege pacaran hahaha.”
“Heh, ini anak. Ya gapapa dong, namanya juga Valentine’s day. Sah sah aja lah. Lo aja sirik ga ada yang lo kasih coklat. Woooooooo….”
“Yeee ngapain juga gue kasih coklat ke orang.”
“Iya lah, mau ngasih gimana. Kelamaan jomblo sih lo. Makanya, cepetan punya pacar, ga usah nungguin yang ga dateng lah.”

Dua kata. Kalah. Telak.

Maret

”Ciiiieeeee Niiisaaaaaa......udah ada yang baru aja tuh. Kenalin dong kenalin sini! tiba-tiba ke kantor bawa yang bening gini. Siapa namanya hah? Siapa? Nicholas? Apa Bruce? Apa James? Hahahaha”
“Heh sembarangan lo! Bukan siapa siapa, ini temen kampus dulu. Kenalin, Pras. Pras ini Meli, itu Mbak Nunik, itu yang lo dudukin kursi nya Mas Arif, orangnya lagi keluar kayanya.
Mel, Pras ini yang bakal bantuin kita buat agenda CSR ke panti asuhan bulan depan”
”Pras.”
”Oooh muka bule gini namanya Pras? Hihihi lucu yaa. Pras, udah kenal Nisa dari lama ya? Udah, kalian jadian aja, kayanya pas deh. Kamu tipe Nisa banget tuh. Hahahaha.”
”Oh gitu, mbak? Wah, doain aja ya mbak. Insya Allah deh saya nanti make move hehehe.”
“Ya kali, Praaas…apaan sih.”
“Hahaha, jangan malu-malu kucing gitu lah, Nis. Sampe merah gitu muka lo.”
”Doain aja ya mba, hahaha”
“Ah mulai aneh aneh deh lo,Pras”

Nisa hanya mampu menggelengkan kepala akibat ulah Meli dan gurauan Pras yang membuat jantung Nisa berhenti berdegup sepersekianmilisekon.

April

“Mas Praaaaassss!!!!!!”
“Hey!! Apa kabar apa kabar? Duh udah berat ya kamu sekarang, pegel aku gendong kamu hahaha. Eh apa ini?”
”Kue bolu kukus, dari kakak itu.”
”Oooh, iya iya.”
”Enak tau mas, mau ga? Nih buat mas,”
“Eeeh ga usah, buat kamu a…..”
”Hihi masuk mulut mas Pras deh, enak ya mas.”
“Hmmmmm..he eh he eh..”
“Kakak nya cantik baik lagi mas—iih Mas kok diabisin siih kue akuuuuuuuu!!!!”

Mei

“Pras, lo tuh ngerti jalan ga sih?”
”Ngerti lah, Bandung sih daerah jajahan gue, Nis.”
”Ah gila lo, udah daritadi nih kita muter muter di jalan ini aja. Tanya orang deh. Duh, ini dimana sih?”
”Hahaha panik banget sih lo. Sebenernyaaa.....gue sok sok bikin kita nyasar aja sih, Nis. Supaya bisa lama-lama jalan sama lo..cieeeee Praaaas hahahahaha,”

Nisa tersedak. Tak membalas. Berlagak tidak mendengar gurauan Pras yang mulai tak lucu.

Ga lucu, Pras. Beneran. Ga lucu.


Juni

”Nis, siang ini ada acara gak? Lunch bareng yuk, sekalian deh lo kan pengen beli buku buat anak anak panti lo.”
”Uuum, mau kemana dulu nih? Gue males juga kalo jauh jauh dari kantor,”
”Ga kok, paling sekitaran Mampang,”
”Oooh, gitu toh. Yaudah deh, Di, nanti gue kabarin lagi.”
”Okee, kabarin ya, soalnya kan gue pernah janji sama lo mau nunjukin tempat makannya.”
”Oh, oke oke Di, santai lah. Ga usah di-consider janji juga sih hahaha.”
”Eh serius Nis, sekalian jalan aja lah, lagian udah janji juga kan ke lo,”
”Ya ampun Adiiiii, santai aja sih kaku amat pake janji janji gitu segala,”
”Udaaah, pokoknya kita lunch bareng. Oke Anisa Lazuardi?”
”Ummm, okay I’ll text you later, then, Adi Kusuma Wicaksono.”

Lelaki itu berlalu setelah mengacungkan jempolnya. Nisa menghela nafas, lelaki itu tak ada lelahnya. Lalu teringat, ada janji yang harus dipenuhinya sore ini. Mengetik pesan, memilih nomor kontak, Prasetyo Soebrata. Mengirim. Terkirim.

Juli

Me:
Hey, you!                                                                                             21:32
Makasih traktiran bukaan nya, thanks udah nganterin balik :)           21:32
------------------------------------------------------------------------------------------
Prasetyo Soebrata:
Yup, nevermind. Kan tadi sekalian jalan balik haha                           22:45
-----------------------------------------------------------------------------------------
Me:
Tidur lo buruan. Jangan begadang. Nanti sakit aja                           22:45
Kan masih ada proyekan sekolah jalanan minggu abis lebaran        22:45
------------------------------------------------------------------------------------------
Prasetyo Soebrata:
Iya iya gue baru bikin agendanya nih                                                 23:01
Duh jadi enak diperhatiin sama neng geulis :3                                   23:01
-----------------------------------------------------------------------------------------
Me:
Hahaha iya dong enengnya kan khawatir sama abang                      23:04
Udah sana tidur pras                                                                          23:04
-----------------------------------------------------------------------------------------
Prasetyo Soebrata:
Ga janji ya neng, soalnya abang mau nonton bola dulu sekalian
saur                                                                                                     23:20
-----------------------------------------------------------------------------------------
Me:
Woooo dasar laki, yaudah sekalian bangunin gue saur ya pak          23:22
-----------------------------------------------------------------------------------------


Percakapan itu selesai, habis untuk malam itu. Dan jantung Nisa berdebar empat kali lipat tiap kali telefon selular nya berbunyi, tanda Pras membalas pesan singkatnya.


Agustus

Me:
Selamat idul fitri, Bung Prasetyo Soebrata!                                        6:45
Maaf lahir batiiin :)                                                                             6:45
-----------------------------------------------------------------------------------------
Prasetyo Soebrata:
Ooy, sama sama ya                                                                             10:17
Minal aidin walfaidzin. Sori ya nis gue suka becanda2                      10:17
Salam buat keluarga :)                                                                        10:17
------------------------------------------------------------------------------------------
Me:
Haha ya kali deh pras, keluarga gue kan ga kenal lo             10:20
Masa nanti gue bilang mama “ma, salam dari Pras, minal
aidin katanya” lah pasti emak gue bingung haha                               10:21
-----------------------------------------------------------------------------------------
Prasetyo Soebrata:
Loh ya ga bakal lah mama ngomong kaya gitu                                  10:21
*cie mama :p                                                                                      10:21
-----------------------------------------------------------------------------------------
Me:
Lah? Terus gimana deh                                                                      10:21
-----------------------------------------------------------------------------------------
Prasetyo Soebrata:
Pasti gini: ma, salam lebaran dari Pras. Oooooh Pras calon
menantu mama itu ya, suruh kesini makan ketupat bareng                10:23
hahahahaha                                                                                        10:23
------------------------------------------------------------------------------------------

Deg. Rasa nya itu detak jantung Nisa yang terakhir.


September

”Eh jadi gimana lo? Ga jadi jadi sih sama Pras?”
”Mel, apaan sih. Bahas aja terus.”
”Eh bulan syawal ini, bagus buat nikahan! Hahahha”
Sopo sing mau nikah, Mel?”
”Itu loh Mbak Nik, si Nisa, udah nemu gandengan tapi belom dijadiin haha capeeee deeehhh....”
”Lho? Iya Nis? Sama siapa toh? Pras Pras itu ya? Wah apik tenan loh kalian berdua itu, pantes. Kok belum dijadiin Nis?”
”Aduuuh Mbak Nunik, si Meli didengerin, ih ngawur dia Mbak.”
”Hahahaha doain aja tuh Mbak, aneh sih tuh berdua, ga ada yang mau maju. BBM-an bales nya tiap dua jam sekali. Si Nisa bingung jadinya Mbak sama si Pras. Udah sih, Nis. Jaman berubah, emansipasi wanita! Ngaku aja buruan!!!!”

Mbak Nunik tertawa. Meli, si biang kerok itu apalagi. Hanya tersenyum masam yang Nisa bisa lakukan, namun entah mengapa ujaran Meli berkali-kali menggema kecil di ujung benak nya.

Ngaku aja buruan. Ngaku aja buruan. Ngaku aja buruan.


Oktober

”Gue tuh kesel Nis sama Donny, dia tuh maunya apa. BBM-in gue tiap hari, gombal gombal ga penting bikin gue ser-seran, tapi mana? Ditembak apa ngaku apaan juga enggak. Cape Nis gue diginiiin. Anjir, berasa ganteng apa tuh anak ya? Berasa ga mau kehilangan fans? Gue? Fans nya gitu? Anjiiiiing itu cowo nyebelin banget. Kesel sampe seubun ubun tau ga sih lo Nis? Galau segalau galaunya gue. Mau nya tuh apa sih? Kalo emang he is not into me, ya ga usah kasih harepan gue lah. Kalo emang demen sama gue ya maju. Semaput tau gak sih. Nis, maaf lo gue cerewetin, gue cuma gatau mesti gimana lagi.”
“Sabar, Del.”
“Gue muak Nis, udah cukup lah hampir 3 bulan gue diginiin. Naik turun banget ga ada kejelasan. Gue sama Bilal aja lah, selama ini dia udah baik banget, usaha, jagain gue. Ga guna ngarepin orang yang ga jelas maunya apa dan ga usaha buat gue. Fix. Ga ada nama Donny lagi, biar mati aja itu anak.”
”Iya sayang, iya. Udahan ya nangis keselnya.”
”Okay, Nis. Thanks for caring and listening my stupid moaning yah. Makaasiiiiiiiiihhhhhh banget. You are such a nice person, semoga lo ga ngalamin kejadian kaya gue ya. Bye, Honey.”
Bye. Take care.”

Klik. Telfon akhirnya ditutup. Kepala Nisa berdenyut-denyut. Cerita Adel menyayat hati nya. Terasa teralu familiar. Bipbipbip. Telfon selular nya berbunyi. Ada pesan masuk. Pras?

From: Adi Kusuma Wicaksono

 I heard you are sick, are you okay?
Gue ke tempat lo ya, nis.
----------------------------------------------


November

“Nis, tuh udah ditungguin tuh. Cieee tukang ojek nya sekarang baru nih?”
”Mulai deh lo, Mel.”
”Hahaha, usaha nya oke banget loh, Nis. Udah sebulanan ini anter jemput lo terus. Pacar lo bukan sih? Eh si Pras apa kabar? Kok ga pernah keliatan lagi?”
            “Cabut ya, daaaaaaahhh……”
            “Eh, jangan main cabut aja lo, itu ada notes dari Mas Arif, katanya…….”

Nisa mempercepat langkah nya. Muak dengan Meli dan segala pertanyaannya tentang apa siapa dimana kemana. Apapun.


Desember      

”Gue serius sama lo, Nis. Selama ini ya gue usaha buat lo, buat gue, buat kita. Gue kepikiran lo terus.”
“……………”
“Gue sayang lo, Nis. Seriously.”
“……………”
“Nisa, izinin gue jagain lo terus ya.”

Jeda panjang. Otak Nisa malfungsi. Lidah kelu, mati. Menahan nafas bahkan tak berikan efek berarti.




Januari

Me:
Where?                                                                                    18:37
--------------------------------------------------------------------------------
Adi K. Wicaksono:
I think i’m gonna be late. The traffic is damn
horrible                                                                                   18:45
--------------------------------------------------------------------------------
Me:
Okay                                                                                        18:45
Just ping me when you arrive, ok?                                          18:45
Be careful, honey. I love you                                                   18:46
--------------------------------------------------------------------------------
Adi K. Wicaksono:
I will. Love you too                                                                  18:46  
---------------------------------------------------------------------------------


Januari

“Mas Pras, Mas Pras!! Itu kue nya kok ga dimakan? Biasanya mas suka makan kue itu. Buatan kakak cantik loh mas. Baru aja dikirim. Kok ga mau sih? Tumben.”
”Haha gapapa, kamu aja yang makan, mas udah kenyang.”
”Bener nih? Kue Mas Pras buat aku aja ya? Boleh ga?”
“Iya, ambil aja, Dek.”
“Asiiiiikkkkk!!!”

Pras hanya tersenyum simpul saat kue manis itu digenggam dan dibawa keluar kamar.

December 31, 2012

A Year Reflection


Well well well, 2012 is almost over and the 2013’s gate is going to open in no time. It is quite interesting to look back, and realize what I have been trough so far in this what-so-called water dragon for Chinese people or the doomsday year for the Mayans—hey, look Mayans, this is the end of this year, and we’re still alive!! Eat that! ha! Bottom line, this year has been challenging for me. It was the most roller-coaster-like year I’ve ever been trough. The moan, the whine, the panic, the hectic, the grin, the smile, the laugh, all together, mixed up, yet to be honest, this year made me bigger.

If I may say, this year was like final test to upgrade my life level. It was just like when you “meet the king” on video game, just like Mario Bros tried to kill the big great monsterous creature at the end of the stage. The emotions and the tense were all up together. Well yeah, just take a look at my postings this year, you will understand. The most challenging moment in this year was for sure, the break-up. Hahaha it might be so lame that I mention that thing first, but I’ve gotta be honest that it took the most emotion I had. The sob, the moan, the whine, I had them much back then. It’s true. Even after that the most miserable moment I’ve had so far, I was lost, and did so many stupidity regarding my love life hahaha, but yeah, we will never be grown-up and wise without being reckless and stupid, eh?

That moaning period led me to be such a workaholic person. I mean, I tried to do as many activities as I could. And yeah, I did. I took part at one of the biggest event in my campus, and I took a fairly big part on it. It was quite hard and difficult, so much challenging. For that job, I’ve got to push my self to my limit. That was the most challenging job I’ve ever had. I’ve got to do all of the craziest deadline during my mid-term test week, finish all of them simultaneously, maintain the priority, solve the problems, blablablablabla, it was incredibly hectic. Moreover, not only maintain the job and the class assignments, but also I’ve got to maintain my health which I failed at. Yeah, I’ve got hospitalized back then for my irresponsibility towards my own self. Sometimes it’s not that good to be that damn workaholic, force your self over and over again, and never pay attention to your own self. Trust me, it’s just such a disadvantage.

Some first-month of this year might be ghastly, yet even storm has its end, eh? And so my year does. Although it was nasty at the beginning, yet in the middle of the year to the end of the year, I felt steadier, firmer, more poise, and sound. I felt like the sunshine began to rise again on me—oh God, stop this terrible metaphor, yuck. In short, good thing started to come to me after all that wretched period. I was sorta flirted on someone, and finally, I fell for someone new, someone who is now my boyfriend. Haha yep, I moved on. Not only that, my campus life was getting better, I mean, I felt more comfortable with my campus friends, my campus was just like my second home in Depok, I met some new people, making friends with them, I had an annual project together with my Sasing Inggris 2010 pals to success our junior in Petang Kreatif. It was fun! All of the works and efforts we’ve had back the, and as the result, we won the third place!! Quoted from my friend, Ruth Vania, we are so proud like a proud mom haha. Not only that kind of winning which amused me, but I also got a exquisitely exotic and remarkable Lombok holiday with my family which was a rare thing to do!! Even at the end of the year was the final test week which was nastily exhausting yet I’m still contented as my friends and boyfriend are around. Living the moment is the most proper phrase to describe such moment haha.

Like I said, this year was the roller-coaster. This year was like Mario Bros faced the Boss of the stage. Fortunately, I am the Mario Bros who jump into the big green pipe after knocking down the boss of the stage. I am level-upgraded. Well yeah at least, that is what I feel so about my self in this year. I overcame the obstacles, maintained the emotion, got over the moan and sob, learnt from the past, forgave people and my self, continued life, until now live the moment. I am so glad that I could be on this phase, sitting in my bed, typing this sorta dramatic story of this year so far. I am so grateful that God still gives me opportunity to learn my life from my sob and tear, yet still gives me the laughter eventually. I feel much complete, wiser, and bigger, I suppose haha.

Well, thank God for the super-Mario-Bros-and-roller-coaster-like 360 days.
It was ROCK AND ROLL!!! J

December 30, 2012

Doa dalam Jarak


Pernah di suatu waktu kita berkata, “Jalan mana yang ingin kau tempuh?”. Lalu, kau hanya menjawab enteng, ”Yah yang mana sajalah, asalkan Tuhan yang beri.” Dalam senyum tipis mu, aku tahu. Kau tak inginkan seperti itu. Tapi aku hanya terdiam, membiarkan lidah ini kelu tak berirama. Sore itu kita habiskan bersama saja. Aku, kamu, dan pilihan kata pembentuk mimpi omong kosong mu. Selama ini aku tahu, mana ada benda di dunia ini yang mampu membuat mu pasrah, menerima apapun yang kau katakan ”asalkan Tuhan yang beri.” Pih. Mengenal Tuhan saja, prestasi bagimu. Kamu, mahkluk paling kekar dalam pemikiranmu, manusia paling keras kepala yang pernah ku tahu. Mana ada sejarah nya kau lelah dalam waktu? Mana ada catatan nya kau kalah pada keadaan pembentuk hari? Tak ada, kawan. Ini bukan kau. Namun aku hanya terdiam dan rantaikan jejak padamu. Hingga sampai pada waktu kau buka kartu, kau menemukan realita pembentuk dirimu. Ternyata dirimu tak seteguh dahulu. Zaman mengikismu, waktu melemahkanmu. Entah lah, kau bukan dirimu yang dulu. Ketika jalanmu menjadi jalanku, dan jalanku menjadi jalanmu. Kau tawarkan sejenak cerita cerita dahulu antara kau dan mimpi mu. Mimpi yang kau gadaikan, mimpi yang kau lemparkan, mimpi yang kau buang, mimpi yang kau telantarkan. Entah apa yang kau pikirkan waktu itu. Waktu saat gadaikan mimpi mu. Kerasukan setan apa kau? Termakan rayuan iblis apa kau? Semoga kau paham apa yang salah karena ini bukan diri mu. Semoga kau tahu siapa yang kalah karena aku tahu ini menyiksamu.
           
Aku kini hanya diam, Sobat. Bergeming, mendoakan mu dalam jarak.

Untukmu, mimpimu, dan kehidupan baru mu.

The Talkative People


People communicate everyday. Mostly by speaking, creating words, sounding voices. Some of them are so much talkative, so much bold, so much vocal. They talk everyday, everytime, every minute, every second. They platter without stuttering. Their lips move fluently. It’s just that flowing. It’s just so flawless. They tell everything they feel, they see, they hear, they smell. Everything. Until everyone around thinks they’re just blabbering without pull stop. Most of them, who are keen on talking, seem cheerful and lively everyday. They seem so open to everybody. Knowing them is just like reading a manual book. So easy to read, so readable.

However, have you ever noticed that people like them are just disguising?
Disguising from their own feeling. Hiding their emotions. Covering all bad side of their own selves?

Because, believe it or not. Those people who talk much are not actually “talking” after all. They are not the people of happiness. They are not the joker. They are not the books. They hold back. They are not mouth-slippering, but actually mouth-zippering. Mouth-zippering from their own feeling. They just keep wondering if it’d be appropriate to be told. They just keep hold it, cover it with smile, giggle, laugh, or even stupid jokes.

They just hold it. In slobbering, blabbering, chattering, mumbling mode.

November 16, 2012

Berjeda Yang Melelahkan


Berjeda yang disengaja berbeda dengan berjeda yang tiba-tiba. Berjeda tetiba itu ya seperti ini. Aneh sebenarnya. Kau hanya fokus kepada satu. Kekosongan. Ini sering terjadi ketika kau muak atau bosan. Atau terjadi ketika waktu berlari. Ketika semuanya sesak dan penuh. Berjeda itu memang terkadang membingungkan. Kau membutuhkannya ketika kau butuh untuk terlepas. Tapi kali ini rasa nya lain. Jeda ini justru mengikat keras. Jeda ini teralu luas. Teralu lepas. Sehingga kau hanya termanggu. Bingung akan kekosongan. Penat karena kelapangan. Aneh memang, tapi terjadi. Ketika menghela nafas tak cukup. Ketika udara segar pun tak berhasil. Tenggorokan tercekat. Nafas berat. Mata berkunang. Kepala panas. Sesak karena kebosanan. Berjeda yang tiba-tiba. Berjeda yang tak disangka. Berjeda tanpa rencana. Berjeda yang melelahkan.

Consumption, Needs Or Prestige?


Consumption is something closely related to our life. We sleep, eat, watch, travel to somewhere, and soon, and those all stimulate us to consume almost everything in our life, for instance foods, beverages, dresses, suits, gadgets, and so on. Consuming is sort of our life style today. Believe it or not, realize it or not, we’ve been doing it all over the day. Even sometimes, we just buy—or let’s say “consume”—anything that it might be unnecessary. The number of city malls could be the indicator how big the existence of consumption life style among us. Malls, with their own glamour, serve people fancy stuffs which are so appealing to be bought. Malls also have their own ways to persuade people to buy their products. For example, the annual discounts, the member discounts, the night sale, and several pleading ways could be used to attract them buying compulsively.
            The factor of consuming behaviour around people nowadays might be because of three reasons. First, the imperialism and colonialism. Those things give impacts to the colonized country, since the colonizer’s lifestyle somehow becomes the role model for them, or at least it is adopted or internalized. Hence, they might consume anything the colonizer did. Second, the economic growth. Since the economy is developing, the production of some products is gaining, too. It might be because there is an expanding in social classes which is followed by the raise of needs and living materials. People tend to have more demands, and more demands mean more consumption. Third, the development of technology. We acknowledge each others that technology becomes the major factors of all persuasions. People can easily get information about these and those by clicking here and there in internet, listening to radio, watching massively the tv, and so on and so forth. The social media? It is enormously connected to us. Facebook, twitter, line, path, and so on, make us effortlessly knowing the trends and any kinds of “what-so-happening” things and stuffs nowadays. It is intense and major fast. More over, technology makes people easier to buy things. We all know online shop, it is the matter of clicking-here-and-there shopping. You even don’t move your body to get the products.
            Consuming nowadays is not about fulfilling your needs. It is more than that. There is a shift in consuming behaviour in our society. It is occasionally the matter of image branding, how you build your self and in what way you want people judge you and see your self. People will consider you as an upper-class person when you have your brand new i-phone in your hand. The better products mean the better self image. Do you remember the remarkable events which people lined up in Senayan City only for buying the discount Crocs? That showed how much Indonesian people got too much attached in consuming behaviour.
            All and all, we do consume in every day in our life. We sometimes “shop till drop”. We even don’t know what we shop for. However, the sense of gaining prestige is somehow reflected in our consuming behaviour. It is not about fulfilling needs, yet it is constructing self branding. 

November 08, 2012

Be patient, Patient :)


Hellow, long time no see. Im so sorry that I cant catch up the whole things in my days lately. It was because I was sorta hectic to do those assignments and extra-extra activities in my campus. Sound so much busy, eh? Hahaha Im not really sure, I guess either I did really bust back then or not. However, I felt like I had a lot of things to do back then.

Well well well, those horrible activities led me to this condition. Yeah, I have just come home from hospital. I was hospitalised almost a week because of my recklessness and own mistake. I was not good enough for my self. I kept forcing my self to stay up late and did not pay attention on my diet. As a result, yeah that tyfus sickness was all around me. my temperature was 39 C, and the rest was history. I just lied on my bed in hospital, did nothing. Worse, I skipped 2 mid term tests—yeah, it is now still mid term test week, poor me, eh?—lucky, my lecturers understood and they would give me another make up mid term tests the other week. Bless them. Moreover, I lost my big opportunity to be a moderator in one of my campus events, and also one of focus group session which I had to attend since I was chosen to be one of the candidates of international seminar. And yeah, I cant be there. I lost the opportunity for my own recklessness. I lost them all.

Such a lesson. Once more, to be responsible to your own life and health. Health is so damn precious. You always can feel it once when you get sick. It is unfortunate, actually if you do so. Because, you could be me. the one who have just realized what has been vanished after you know it was. Love your life, love your self. Don’t overwhelm your self. It just will give you disadvantages.

Be healthy. Be balance. Be happy.

J

August 15, 2012

Merelakan Rindu


Merelakan rindu.
Seorang teman pernah katakan

Merindulah
Tak ada yang salah
Hanya saja,
Relakan saja
Kalau memang tiada sama
Perasaan yang ada disana

Merindulah,
Tak ada yang kalah
Hanya saja,
Ikhlaskan saja,
Jika memang yang disana
Mengabaikan adanya

Merindulah
Dan biarkan waktu
Yang buat kau
Terbiasa

July 28, 2012

Eyeliner, Indikator Keberhasilan Perempuan


Ini alasan saya kenapa saya lebih senang menggunakan angkutan umum untuk pergi kemana mana. Selalu ada cerita. Entah itu sesuatu yang menyentak saya untuk bangun, sindiran halus yang buat cekit-cekit kecil di hati, sampai banyolan yang meledakan tawa saya.

Namun untuk kali ini, kategori nomor dua yang hadir di pagi saya.

Pagi itu pagi yang sederhana. Cantik seperti biasanya. Hari senin, dan hari yang sama untuk memulai realita. Begitu pula saya. Saya harus kembali ke Depok, kota panas menyengat, representasi seperdelapan panas neraka. Seperti biasa, saya pergi menggunakan angkot dari perempatan rumah saya dan nanti nya disambung bus ke arah pasar rebo.
Nah, di angkot itu lah cerita kategori kedua itu dimulai.

Diawali dengan naiknya dua mbak-mbak cantik nan rapi ke angkot. Awalnya sih saya santai aja, mereka berdua bercakap-cakap layaknya teman sepermainan *ini apa sih* terus lama kelamaaan, pembicaraan mereka mengarah ke sesuatu yg membuat mata saya menyipit dan hati saya cekit-cekit.

Eye liner.

Siapa perempuan yang baca tulisan saya, ga kenal sama eye liner?
Yah, kalo ga tahu eye liner, ini deh nama lainnya, sipat mata atau celak mata *sumber: mama dan mak aji, nenek tetangga sebelah rumah
Kalo masih belum inget juga, udah bayangin aja, ada aspal cair hitam yang nempel di garis kelopak mata dari ujung kanan sampai kiri.

Ya semacam itu lah.

Nah, mbak 1 itu ceramah ke mbak 2 karena si mbak 2 pakai eye liner nya berantakan. Ga bagus gitu bentuk nya. Kalo istilah mbak1 nya sih "menyon-menyon". Entahlah saya juga ga ngerti itu terminologi dari mana.
Si mbak 2 membela diri dengan alasan emang ga bakat dandan dan tadi buru-buru (alasan yang familiar buat saya hahaha) Tapi, entah itu si mbak 1 kader dari Partai Make Up Indonesia atau apa, dia malah cerewetin si mbak 2 dengan semangat membara dan berapi-api. Dia bilang gini:

"Jadi cewe tuh paling ga bisa dandan dikit2. Supaya ga malu2in diajak kondangan. Modal tuh"

Waaaaah, mendelik lah mata saya
Ngilu lah ini dada saya
Cekit-cekit lah hati saya yang lembut ini

Kenapa hati saya cekat-cekit?
Soalnya, sudah dari kapan tau saya punya eyeliner. Sudah dari kapan tau saya belajar pake. Dari yang bentuknya cair, pensil, spidol lah, tetap aja ga bisa bisa. Kalo di twitter, saya biasanya pake tagar #emanggabakatcakep

Saya jadi mikir, segitu esensial nya eye liner buat perempuan? sampai-sampai indikator 'malu-maluin ke kondangan' diukur dari rapi dan sempurna nya garis semi aspal itu mengukir di ujung kelopak mata?
Entah lah, hanya Tuhan, Mbak 1 penggiat eye liner itu, dan mungkin sales oriflame yang tahu.

Yaaaaa, tapi kalo dipikir-pikir, omongan mbak 1 itu ada benarnya juga, sih.
Maksud saya, ga ada yang salah dalam usaha. Apalagi usaha memperbaiki atau mempercantik diri, asal ga berlebihan sih sah sah saja. Lagian, kalau pribadi kita, secara fisik dan kepribadian, menarik dan enak dipandang, kan kita juga yang untung. Orang di sekitar kita juga untung, yaaa pada kasus mbak-mbak tadi, "ga malu-maluin diajak kondangan" lah istilahnya.

Mungkin pertemuan saya dan mbak-mbak pagi tadi merupakan cara Tuhan untuk mengingatkan saya supaya sedikit lebih perhatian sama penampilan saya. Mungkin, Tuhan mempersiapkan saya untuk lebih 'luwes' dan 'enak dipandang' ketika saya harus menghadapi dunia kantor. Yaaaa, kan ga lucu aja ke kantor, meeting sama klien, tapi muka saya gini-gini aja kaya anak SMA mau rapat OSIS (anak SMA sekarang aja lebih jago pake eyeliner dibanding lo, nir) hahaha

Well, dengan hati yang masih setengah cekat-cekit, saya menghela nafas dan membatin, "Sudah saat nya saya berdamai dengan eyeliner yang berdebu di pojokan kamar sana"

Semoga saya cepat lancar pakai eye liner.
Semoga saya ga malu-maluin diajak kondangan.

Amin.

July 14, 2012

Tuhan Sialan


Tuhan terkadang lucu. Selalu punya cara untuk mengingatkan umat-Nya. Akhir-akhir ini saya muak dengan dunia perkuliahan saya. Seakan-akan hidup saya dihabiskan untuk bangun, siap-siap ke kampus, masuk kelas, mencatat materi dosen atau tertidur di kelas, keluar kelas, mengurusi beberapa hal diluar perkulihan, bicara ngalor-ngidul bersama teman saya, pulang ke kosan, mengerjakan tugas, tidur dan bangun keesokan pagi nya dengan aktifitas yang kurang lebih sama. Jujur saja, saya mulai bosan dengan jadwal hidup yang seperti itu. Saya beberapa kali mengeluh kepada beberapa orang dekat atau seringkali mengeluh di dalam hati mengenai datar nya kehidupan perkuliahan saya akhir-akhir ini. Monoton, bisa dikatakan demikian. Saya lantas mengeluhkan keadaan ”kenapa sih gue mesti kuliah di Depok? Ga ada apa-apa. Ngebosenin. Kenapa ga di Jogja atau Bandung deh paling ga? Gue pasti ga akan bosen.” Lucunya, semua kesinisan saya mengenai hidup dewasa ini seakan dibalas oleh Tuhan dengan cara yang cukup sederhana.

Hari ini entah kenapa migrain saya tak kunjung reda. Padahal malam sebelumnya, saya sudah minum obat penghilang rasa sakit yang paling ampuh yang biasa saya minum dan saya juga sudah tidur lebih cepat, namun apa daya, si pusing masih betah di kepala saya. Hari ini pula jadwal kuliah saya sedang kosong. Dugaan sementara saya, kebosanan pasti akan melanda saya dengan migrain, jadwal kuliah kosong, dan kosan yang tak kalah kosongnya. Karena hal tersebut saya memutuskan untuk pergi ke bank untuk menabung dan mencari udara segar. Lantas saya pun menuju bank yang letaknya di dalam kawasan kampus saya. Rupanya, ketika naik bikun, saya turun di halte yang salah. Saya turun di halte Balairung, bukan di halte MUI. Artinya, saya harus memutar lebih jauh karena jalan tembusan Balairung-Perpus pusat (bank itu ada di dalam gedung perpus) ditutup selama masa renovasi Balairung berjalan. Jadilah saya mengambil rute memutar Balairung.

Saya berjalan perlahan sambil menikmati angin yang memang berhembus sepoi-sepoi. Ketika berjalan, saya menoleh ke kanan, Balairung, tempat mimpi-mimpi saya mulai makin merekah dan bertumbuh. Lucu sekali, mengingat beberapa tahun lalu ketika saya pertama kalinya merasakan debar yang luar biasa untuk bisa menjadi seperti saya yang sekarang, mahasiswa. Mengingat saya, Nirma 17 tahun, memiliki semua manisnya dan gelora mimpi untuk menjadi saya masa kini. Pada masa itu, Bedah Kampus UI 2008, Nirma 17 tahun tanpa ragu melemparkan pertanyaan-pertanyaan seputar bagaimana itu kehidupan kampus. Mulai dari macam-macam mata kuliah, cara belajar, perbedaan antara kuliah dan sekolah, prospek kerja lulusan, bla bla bla bla bla bla bla. Sungguh haus akan gambaran pernak-pernik perkuliahan. Betapa ”muda” jiwa saya waktu itu. Tidak takut akan mimpi-mimpi saya. Tidak ragu dengan segala kemungkinan yang ada dalam usaha mencapai tujuan saya.

Langkah perlahan saya lanjutkan, dan pikiran saya melayang pada masa awal-awal saya diterima di universitas impian saya ini. Ya, pendaftaran ulang. Saya ingat, di gedung samping rektorat itu, dengan setia ibu dan ayah saya menemani saya untuk mendaftar ulang. Mungkin, hal ini terasa sepele, tapi di mata saya, hal ini sungguh tak tergantikan. Hari dimana kau bisa melihat dengan jelas rona bangga ibu mu walaupun guratan kelelahan tak dapat ditutupi dari wajah nya yang teduh. Begitu juga ayah saya, betapa kau merasakan lembutnya tatapan dari seorang ayah yang kuat dan tegas. Hal seperti itu sungguh tak ternilai. Membuat orang tua bangga adalah hal yang paling menakjubkan yang bisa kau lakukan dalam hidup.

Kemudian, pikiran saya kembali ke hari ini.
Sejenak saya terdiam,
Lantas saya tersenyum,

”I’m sorry, God. I screwed up my self.”

Tuhan cukup memberikan saya migrain berkepanjangan, jadwal kuliah yang kosong, niatan menabung, bikun yang salah, dan angin sepoi-sepoi
untuk mengingatkan saya,
Menyindir saya,
Memberikan sentilan.

Betapa sesungguhnya, hidup saya sangat indah dengan segala prosesnya
Betapa seharusnya, saya mengeha nafas dan senantiasa bersyukur
Betapa semestinya, saya bisa lebih kuat melawan kepenatan yang manusiawi ini karena,
Betapa sesungguhnya, Dia telah banyak memberikan apa yang telah saya impikan, yaitu

Saya saat ini.

Kalau saja Tuhan itu teman sebaya saya, pasti saya sudah berkata,
”Sialan lo, Han. Bisa aja nyindir gue,”


Sandiningtias, 29 Desember 2011
Perpustakaan Pusat UI, bilik meja belajar
ke-4, kursi kiri, 12:42

Jatuh Cinta Pada Kata-Kata

Pernah kah kau jatuh cinta?
Bukan pada seorang manusia
Tapi pada rangkaian apik kata-kata?

Hey, saya sedang menikmatinya
Menikmati hangatnya kata-kata itu mengalir ke dalam darah
Menikmati aroma manis dari pilihan diksi yang tertata pada tiap baris
Menggigil dalam tanda kekaguman yang melapisi bulu roma

Kau tau?
Kata adalah kuasa
Kuasa atas jiwa mu
Jika kau memang tak sadar itu, maka
Coba lah untuk merenung

Betapa banyak waktu habis
Hanya untuk mengenal huruf
Yang nantinya akan berubah kata
Yang nanti nya akan kau dengar

Di tiap sudut ruang gerak
Di tiap sudut hati

Lalu kau terbawa akan kata-kata
Entah kata-kata siapa,
Namun kau tahu, kata itu memiliki makna

Lalu kau terdiam, terhanyut akan kata-kata
Kata-kata yang mungkin bisa mengubahmu
Mengusikmu, menyisipkan bisik-bisik pesan dari Tuhan
Atau dari malaikat, atau dari iblis
Atau entah lah itu apa dan siapa

Dan ya, untuk kali ini Adam
Kau menangkan aku
Dengan kata-kata mu

Bukan kau yang taklukan ku
Tapi diksi mu
Dan ya, benar

Untuk tiap baris dan bait yang menghujam
Aku mencintai kata-kata mu.

July 13, 2012

Morning Blessed


You know what I like being a part of morning? The feeling of being blessed. yes, being blessed. when you wake up for the first time in the day, consciously, you feel your first breath. that is the sign of your existence as a human living. you feel your eyes, body, head, arms, hands, all of your self work from one part to another else. That's the feeling of being alive. then you feel the sun rise from the lattice of the vent or the slight slit of your window. Then either you hear the chirping birds or the buzzing cars, it still the sign of the universe to get you up. And the universe will conspire with sun, to make a warmer heat for you. it is like an alarm. the alarm which makes your eyes wide opened. Do you feel like God intentionally asks the universe to wake you up? Me? yes I do so. Hence,  how can't you be so grateful when the whole universe try to awake you? try to bring your conscious? try to make you alive? try to give you the opportunity to be the part of the most marvelous atmosphere in the world? It is the most wonderful part in the morning. You feel so special for God picks you as The Given-One. You are chosen to be born again, to live again, to learn again. Not everyone is given the opportunity to sense the beauty of a morning. Morning is enchantingly beautiful and exquisitely blessed :)