Saya tak tahu
sebenarnya apa yang saya rasa ke kamu. Ini perasaan tolol saja atau gimana pun
saya tak mengerti. Apa ya ada perasaan
dimana saya ingin sekali bertemu kamu dalam satu hari. Hanya melihat. Bertemu.
Tegur sapa satu kata. Cukup. Sudah cukup. Ada perasaan dimana saya ingin bicara
banyak dengan mu. Namun biasanya, perasaan demikian saya hentikan, tanpa bisa
saya kurangi. Statis. Skeptis terhadap perasaan sendiri. Poinnya hanya sampai
situ. Betapa saya mengagumi kamu dari balik punggungmu. Bodoh? Memang. Saya
tahu. Tapi ya sudah, mau bagaimana. Itu adalah hal yang paling mungkin
dilakukan sekarang. Kau? Saya? Tidak akan ada kata untuk bersama. Teralu jauh.
Teralu muluk. Pesimis? Ya mungkin. Atau saya hanya orang yang teralu realistis.
Sudah lelah jatuh ke dalam jurang paling kelam. Sudah letih berjalan tanpa
arah. Tapi ya ironis nya, saya masih saja menggantung harapan ke langit lapis
tujuh. Siapa yang bodoh? Saya? Ya memang. Kalau bisa saya menyalahkan Tuhan,
saya akan menyalahkan-Nya atas dirimu. Kau adalah pelanggaran. Tak semestinya
orang seindah mu lahir ke dunia. Oh tidak, saya mulai berlebihan. Kau bukan
indah, tapi cukup memabukkan. Memabukkan yang menenangkan. Mulai lagi, saya
meracau. Entah lah, namun
racauan itu perasaaan saya. Rasa yang selalu ada dan tak mampu saya hidari. Campuran
antara mimpi dan realita. Kumpulan atas harapan dan kenyataan. Apa sih yang saya mau sekarang? Ya kamu.
Tapi ya ga bisa. Ya ga
mungkin. Ya sudah. Biar saja seperti ini. Biar nanti semua hilang sendiri. Semoga.
*teruntuk teman saya, di sana. semoga ketiadaan membawa pelajaran.
No comments:
Post a Comment