July 09, 2018

Sudah lama tak berjumpa. Terlalu banyak hal. Teralu banyak cerita. Teralu banyak emosi. Satu tahun tapi waktu terasa tak berlalu. Kadang ingin bersuara, tapi rasanya hanya tersimpan di dada tak pernah sampai pada kata. Karena sering kali, kata mengingatkan. Jadi, rasanya diam saja dan terus berjalan, Kata orang, waktu pasti berlalu, rutinitas akan membantu. Walau sebenarnya, semua terasa membatu saja. Tapi, ya sudah lah. Namanya juga hidup. Ujian pasti bertambah tingkat seperti di sekolah. Besar kelas nya, lebih sulit ujiannya. Barang kali saya mau naik ke SMP. Ya sudah, sekian saja. Saatnya melanjutkan hidup dan belajar bernafas lagi--dengan udara yang berbeda, nampaknya. Semoga bisa.

July 09, 2016

Dara


Baru kali ini Dara meminta maaf dalam tawa. Bukan karena dia kurang ajar atau tidak bersungguh-sungguh, hanya saja Tuhan selalu saja punya cara untuk membuatnya tersadar dalam sindiran. Ada ada saja. Dara teringat seluruh keinginannya dan tujuannya. Betapa itu dia masih ingusan dan bau kencur. Mana ada yang tahu dan percaya, “Ah, ada ada saja, namanya juga omongan anak kecil.” Tapi tidak untuk Dara, dia selalu percaya. Tetap menggambar dan menulis dan menempel semua keinginannya pada dinding kamarnya. Hingga ibu menggeleng, “ini anak apa apa ditempel, mau jadi wallpaper kamar ya?” dan Dara tidak pernah malu. Dia tahu, ibu juga pasti selalu berdoa. Seperti halnya dia. Dara tetap menyimpannya dalam doa. Tetap berusaha sesuai usianya, sebesar dayanya, sejauh jangkauannya. Sedikit, tak banyak dan tak pernah berlebihan. Namun, Dara tetap percaya, semua tak akan pernah ada yang sia-sia. Jauh sekali dara berkhayal, seakan akan dia sudah ada di sana, seakan akan dia merasakan angin dan mencium bau udara di sana. Dara juga ingat betapa dia selalu menangis saat membayangkannya. Dara menangis dan terus berjalan. Tapi, bukan juga tak mungkin, Dara menangis karena dia ragu. Menangis karena merasa tujuannya tidak mungkin dan kondisi selalu membuatnya untuk berkompromi. Sempat kali dia berjalan, lelah, lantas berpikir untuk menyerah. Hanya saja, semesta selalu punya cara untuk mengingatkan.

Seperti sekarang, Dara sampai pada tujuannya.

Dara ada. Dan ini semua nyata. Membuat penuh sesak di dada. Semesta memberikan apa yang ia janjikan.

Dara mengalahkan dirinya sendiri. Dirinya yang kadang memiliki rasa menyerah yang manusiawi. Dara tertawa. Dia menangis. Menangis, meminta maaf, dan berterima kasih. Meminta maaf kepada Tuhan dan dirinya sendiri bahwa sering kali dia ragu dan lupa untuk selalu percaya. Berterima kasih kepada Tuhan dan semsta yang senantiasa mengingatkan, kekuatan mimpi itu ada dan nyata. Dia hanya perlu meminta, yakin, dan terus berjalan—cepat atau berjeda, tak peduli berapa lama. Berterima kasih kepada dirinya yang sudah berjuang melampaui dirinya selama ini.

Dara menghela nafas dalam dan panjang. Nafas ini hadiahnya. Momen ini pengingatnya.

Dara menyeruput segelas cokelat panas yang baru saja dibelinya di kios dekat stasiun Westminister Abbey. Hari ini 16oC di London, dan musim panas hanya mitos di sini. Dara berdiri dari duduknya, dan mulai berjalan lagi. Mereka bilang, akhir-akhir ini cuaca disini menjadi lebih dingin dari biasanya, dan juga hari ini sepertinya. Tapi, tak mengapa. Dara punya segelas cokelat panas di tangannya. Setidaknya.


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

July 04, 2016

Berkenaan dengan Mimpi

Berkenaan dengan mimpi.

Ada yang memilih untuk diteriakan. Sampai yang lain tau, dan kadang baiknya ikut mendoakan. Ada juga yang memilih untuk dipendam. Seakan terlihat tidak punya tujuan karena diam dan hanya terus berjalan. Hingga yang lain mulai bertanya mau apa dan kemana.

Walau sebenarnya yang dilakukan tak hanya berjalan, melainkan berusaha dan kerja keras dalam tenang. Dan terus berdoa. Karena tetap percaya, Tuhan dan semesta pasti tetap mendengar, lantang atau lirih.

Dan tak ada yang salah dari keduanya. Doa dan usaha tetap bernilai.
Bagaimanapun caranya.

May 13, 2016

Entah sudah berapa lama saya tidak kembali mengetik dan menulis hal hal berserakan yang ada di kepala saya. Sudah teralu lama dan teralu berantakan terpendam. Sempat beberapa kali saya berencana untuk kembali melakukan hal yang saya suka—sebenarnya juga bukan suatu hobi atau bagaimana sih, hanya saja terkadang saya merasa dengan menulis, lega menjadi salah satu hasilnya. Jadi yah, anggap saja hal yang melegakan. Mungkin karena sudah setahun ini saya digerus oleh kenyataan. Kenyataan umur 20-an. Kalau kata teman teman saya quarter life crisis, bahasa keren nya. Mulai kenal dengan dunia nyata bukan buaian seperti yang biasa digunakan Mbak Syahrini lengkap dengan tagar pada tiap postingannya. Cari kerja. Cari pengalaman. Cari duit. Kerja keras nangis darah peres keringet otak dan kuras hati. Yah namanya juga anak baru nyemplung, anak bau kencur. Jadilah, semua konsentrasi, tenaga, dan emosi tercurah ke pekerjaan baru yang sebenarnya sih mungkin belum seberapa dari yang lain lain. Tapi, karena belajar bekerja itu lah yang sering kali membuat saya lupa melegakan diri saya. Gak cuma nulis kok. Saya biasanya juga suka nyanyi nyanyi sendiri gak jelas atau baca buku biar keliatan kritis sophisticated. Pulang kerja, bilang capek, lalu goler goler setelah mandi lantas tepar ngorok, sok sok merasa lelah hasil dari kerja peras otak tenaga perasaan hari itu. Terus berulang, lalu ngeluh, “Duh sumpah ya, udah umur segini kerjaan banyak, ga bisa seneng senang lagi.” Meh. Harusnya saya gak gitu gitu amatlah. Harusnya ga usah sok sok kelelahan lantas lupa hal hal yang bisa buat nafas lega. Harusnya ya saya lakuin aja hal hal yang saya suka untuk melepas lelah. Ngapain kek, nulis random kaya gini kek, nyanyi nyanyi ga jelas di smule kek, atau baca buku chicklit. Jangan manja akibat sombong ah. Sok sok an kerja keras lalu menye bilang kecapean sampe ga punya waktu buat nyenengin diri sendiri. Dasar mental Nutrijell. 

December 27, 2015

Dira 2

Hujan turun lagi dan artinya Dira harus menunda pulang. Hari ini cukup melelahkan. Data ini, data itu. Meeting sana , meeting sini. Ketik sana ketik ini. Book sana book sini. Makan siang yang terburu-buru. Botol minum yang masih terisi penuh. Dira menghela nafas. Jam 5 sore adalah waktu yang langka untuk menghela nafas. Karena biasanya, ada saja ‘titipan’ yang mampir. Entah dari ibu ini atau bapak itu. Urus sana urus sini. Atur ini atur itu. Ada baiknya Dira menggunakan kesempatan ini untuk sejenak melemaskan otot-otot nya yang memang letih. Kerja. Namanya juga kerja. Tidak ada yang tak lelah. Semuanya sama, pasti buat kepala pusing dan otot kaku. Lalu Dira berpikir, akankah mungkin lelahnya berkurang jika memang dia mencintai pekerjaannya? Apa bedanya? Toh sama sama kerja juga. Sama sama mengeluarkan keringat dan tenaga. Dan juga menguras emosi. Namanya juga kerja, cari rejeki. Usaha, pasti ada lelahnya. Atau mungkin benar ada kurangnya? Kurang lelahnya, maksudnya. Bagaimana kalau Dira benar mengusahakan dirinya untuk bekerja seperti keinginannya? Jadi pelukis misalnya? Ah Dira merindukan dirinya dan kanvas dan palet dan cat cat yang membekas tak hanya di kanvas namun juga di tangannya. Tak pernah menyesal ia mengisi beberapa tahun dalam hidupnya untuk belajar dan akhirnya menghasilkan gelar sarjana seni murni. Namun, nampaknya dunia tak teralu menginginkan pelukis. Dunia menginginkan praktisi—setidaknya Jakarta. Bukannya, Dira tidak bersyukur dengan pekerjaan yang ia miliki sekarang. Sungguh egois jika demikian, mengingat ada ribuan orang di luar sana berjuang untuk hanya mendapatkan satu pekerjaan. Bukam, bukan Dira tidak bersyukur lantas mengutuk  kehidupan. Hanya saja, terkadang, Dira merasa hilang, Berisi namun kosong. Terang tapi gelap. Yakin lalu bingung. Dira mengela nafas lagi dan meneguk air pada botol yang sengaja ia bawa dan isi dari rumah. Hujan sudah reda, saatnya kembali pulang. Dira rindu kasur kamar tidurnya.

July 25, 2015

Dira

Jeritan kecil anak baru gede menyadarkan Dira dari lamunan atau entah kantuk selepas kerja sore ini. Metro Mini 610 arah Pondok Labu melaju lambat-lambat menyusuri Jalan Melawai. Jakarta, seperti biasa, panas, sesak, dan penat. Si empunya badan hanya menghela nafas dan menggumam dalam pikir. Hidup semakin sepi. Banyak cerita dan kolega lantas tak membuat hari semakin berwarna. Entah kenapa akhir akhir ini Dira merasa sepi. Teman yang sebenarnya teman pun ia ragukan. Karena terkadang sempat mampir di pikiran, apa iya teman adalah teman. Apa iya yang dianggap juga menganggap? Bagaimana jika semuanya berlawanan arah? Lalu, pada siapa ia harus mengadu? Karena terkadang Dira takut, bahwa semakin kau tua, bukan waktunya lagi kau mengadu. Bukan karena urusan kodrati. Hanya saja, memang sudah tidak ada tempatnya. lalu Dira harus mengangkat semuanya tanpa siapapun, walau seringnya ia merasa mengangkat milik yang lain. Bukan dipaksa,  atau diminta, hanya karena Dira rela. Jakarta memang hingar, tapi selalu ada yang sepi dan kosong. Karena hidup nyatanya sendiri sendiri. Metro mini berhenti, dan para ABG pun berhamburan turun dengan segala kikik tawa yang dibawa. Dira menghela nafas,  menutup matanya, dan Metro Mini mulai bergerak lagi.
  

July 06, 2015

akhir akhir ini

sudah lama saya tidak menggumam sendirian, mungkin karena kehidupan mulai teralu angkuh untuk dijeda atau mungkin memang saya yang demikian sombong tidak memberikan secelah waktu untuk terdiam dan melihat ke dalam. iya akhir akhir ini memang saya "dituntut" untuk lebih padat pada jadwal.
akhir akhir ini ya begini. sarjana baru. sarjana muda bau kencur. bingung tengok kanan kiri cari cari jalan menuju apalah itu namanya kesuksesan. buat saya, kali ini cukup membingungkan. saya terbiasa dengan tujuan yang jelas dan konkret. kali ini lain, saya semacam harus tanya kanan kiri dan GPS pun nampaknya tak berlaku lagi.

beberapa pilihan memang terpapar. dan akhirnya, saya memilih (atau dipilihkan Tuhan). saya mencoba mendengarkan diri sendiri, mengiyakan kata hati. banyak sih yang menyayangkan dan bahkan mencibir, "ngapain sih nir milih kerja kaya gitu?" tapi ya sudah, hidup toh hidup saya. saya yang menjalani saya yang menanggung sendiri. semoga saya dan yang saya cintai bisa menikmati.

akhir akhir ini memang begitu, orang orang mondar mandir wara wiri. komentar sana komentar sini. unjuk gigi unjuk prestasi unjuk materi. tapi ya ga apa apa juga. namanya juga aktualisasi diri.

pokoknya, buat saya, akhir akhir ini ya gini:

"umur sudah segini, bukan waktunya ikut ikutan lagi."






*dikutip dari Ms Nike, salah satu dosen saya, di sela sela obrol obrol santai tentang rencana hidup. terimakasih banyak, ms.

November 27, 2014

Surat Kepada Bujang

Selamat malam, Bujang.

Apa kabar? Surat mu kemarin sudah ku terima. Iya, Jang, hidup memang sudah berbeda sekarang. Sama seperti diriku.

Aku merasa ada yang salah. Aku selalu melakukan salah. Dan selalu merasa bersalah karenanya. Walaupun orang bilang tidak ada yang salah. Tapi bagaimana kau tidak merasa bersalah ketika yang dihadapkan dengan mu adalah semua hal yang benar, tidak ada cacatnya, tidak pernah salah? Lalu, kau anggap apa dirimu, Jang, jika kau berada di kaki ku?

Aku ingat terakhir kali kau katakan kepada ku bahwa aku harus selalu belajar. Belajar berdamai dengan diri sendiri. Menerima kesalahan. Memaafkan diri sendiri. Dan mulai bergerak maju. Belajar dari kesalahan dengan tidak mengulanginya. Tapi, rasanya lain, Jang, disini. Seakan semuanya tak cukup. Ada saja cacatnya. Mereka bilang, sih, tak mengapa, seperti biasa. Tapi, hati ku mengatakan lain, Jang. Rasanya ada yang mengganjal. Karena jujur saja, disini segalanya menghimpit, memojokan, perlahan dan tidak kentara.

Menurutmu, baiknya aku bagaimana, Jang?

Jang, datanglah ke kota ku. Aku mulai hilang arah, Jang. Bantu aku. Seperti dulu kau mengajari ku bagaimana mengendarai sepeda atau menerbangkan layangan berserta manuver liukan mengelak jebakan tiang listrik yang menjebak layangan lima ratus perak kita. Aku rasanya mau membelah diri saja kalau begini caranya, Jang. Membiarkan setengah dan setengah diri ku melakukan kesalahan dan kebaikan masing-masing. Terpisah. Agar tak tercampur. Agar aku bisa dengan mudah nya  melihat,

Mana tahu, aku bisa melakukan kebaikan juga.



November 12, 2014

Surat Untuk Gadis

Hai Gadis,
Apa kabar? Sudah lama tak jumpa dan mengobrol seperti biasa. Lama sekali. Waktu sungguh cepat berlalu, ia tak lagi merangkak seperti masa muda dulu. Ia sekarang lebih kekar dan lincah, sudah mampu melaju pesat, berlari tanpa tengok kanan kiri.

Apa kabar, Gadis? Rindu rasanya tak berbincang. Membahas hal hal sepele yang seenak jidat masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Mencibir kejadian yang sebenarnya lumrah mampir di pagi hari. Mencaci siang karena panas nya matahari. Mengutuk malam yang selalu datang bersamaan gelap. Atau menerawang bodoh tentang masa depan. Apa dan jadi apa. Mengapa dan jawabannya. Tak perlu ada fakta. Tak perlu serius. Karena hidup adalah apa adanya.

Hidup di sini cukup berbeda, Gadis. Tak tahu bagaimana hidup mu di sana. Di sini, semua berlarian, semua berkejaran. Dengan orang lain, diri sendiri, dan waktu. Iya. Waktu yang semakin dewasa. Semua nya berkompetisi. Tinggal saya di sini yang mulai kebingungan. Tertatih tatih mencari celah. Ingin sekali rasanya saya juga ikut berlari. Berlari mengejar atau berlari menginggalkan mereka. Rasanya mereka tak pernah berhenti, Dis. Ada yang pernah bilang bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang selalu jalan—berlari—ke depan. Tanpa menoleh ke belakang. Lurus. Fokus. Apa iya, Dis? Apa benar? Saya pernah kali melakukan nya, terus lurus ke depan. Tapi mungkin pertanyaannya, apa saya benar benar lurus fokus? Atau sebenarnya saya tidak berlari seperti mereka namun saya hanya berjalan? Berjalan melewati hari? Apa saya salah berjalan dan tidak berlari seperti yang lain? kenapa saya merasa bersalah karena tidak ikut berlari?

Saya mulai letih, Gadis. Entah karena saya letih untuk berlari lagi atau saya mulai letih berjalan kaki.

Begitulah, Dis. Sekarang kehidupan mulai lain, ya? Hidup bukan lagi sekedarnya. Banyak yang bilang hidup itu harus bermakna. Yang mana sih yang bermakna? Sampai sekarang saya pun masih belum tahu jawabannya. Masih belum paham. Mungkin ini sebabnya saya rindu kamu, Gadis. Kapan lagi kita berbincang?



November 09, 2014

karena pagi telah datang dari sepi
menyibak hari dengan terang tak bertepi
siap menari dan merona

terang tak bertepi merasuk diri
sisi ruang batin yang hampa merindu pagi
mewujudkan keinginan untuk kembali berlari

kembali berlari bukan menghindar
mencari jejak yang berharap
dengan setitik embun dan senyum
mengejar harap yang kau tenun

embun dan senyum berkait berpadu
menciptakan kebahagiaan di bawah mentari
menyanjung dengan selamat pagi
karena pagi telah datang dari sepi

aku cinta kamu, peri pagiku.

(A)

July 20, 2014

Warrior of light
frequently ask themselves 
what they are doing here.
Very often they believe
their lives have no meaning.
That is why they are warriors of light.
Because they make mistake.
Because they ask questions.
Because they continue
to look for a meaning.
And, in the end, they will find it.

--Paulo Coelho, The Manual of The Warrior of Light--

April 13, 2014

I'm not the brightest, nor the effortful person.

But Allah listens.

I'm simply a dreamer who even sometimes doesn't know what to aim.

But Allah listens.

And somehow the universe conspire, help me to where I should be.

Thank you, Universe.

Praise to Allah.

December 25, 2013

Silence Day In Crowded Cheers


SILENCE DAY IN CROWDED CHEERS
By Ayu Sandiningtias (1006765324)

Silang Monas Jakarta, in the heat of the sun, in the middle of helter-skelter people, among the colourful flags, costumes, and accessories, around the noise of not only cheering people but also the traditional music, and the rowdy vehicles, it felt like ‘silence’ was not the suitable word to describe Silence Day.
The noise came from Ogoh-Ogoh Parade which was held at Silang Monas, Jakarta, on Monday, March 11 2012, one day before Silence Day. Actually, Ogoh-Ogoh Parade was one of the sequences of Silence Day’s celebration. Before this, there was Melasti. The Hindus prepared themselves for Silence Day by cleaning all of the prayer equipments. The cleaning of those equipments represented the cleansing of their soul, preparing themselves to be a more brand-new and better person. Then after that, The Ogoh-Ogoh Parade was held. Generally, this carnival was held in Bali, yet now, it was on Monas, Jakarta. According to Mr. Wayan, the elder of Pura Setia Loka, “Ogoh-Ogoh parade was usually called by Tawur Kesanga or Tawur Agung. It was held in order to clean the world from any disasters or catastrophes. The catastrophes were symbolized by the giant Ogoh-ogohs.” The Ogoh-ogohs were made in monster-look-like shapes. They were like having the long and extendable tongues out, the big, bulging, glaring eyes, and also the threatening expressions. Some of them held weapons on their hands.  Ogoh-ogohs were basically gigantic puppets, made from weaved bamboo. However, at Monas Ogoh-Ogoh Parade, most of the Ogoh-ogoh were made from styrofoam.  “It’s too heavy and expensive to build a bamboo-made Ogoh-ogoh,” a local Ogoh-Ogoh Parade visitor said.
The Ogoh-Ogoh, as the symbol of Bata Kala, the jeopardy of the world, was made in order to be burnt later. It emphasized that the Bata Kala had been vanished from the world and was unable to disturb the peaceful earth. There were about hundreds people there, living up the parade, walking, laughing, taking pictures, even dancing. Although the heat of the sun was inevitable, it felt like, smiles could not be evaporated away from people’s faces. As the Ogoh-ogohs were burnt, they were all cheering.  “We are happy to see the Ogoh-ogoh are burnt. We are so relieved. Even tough we know they are only the symbol of harm, we just believe that God will protect us from Bata Kala,” said Widya, a visitor of Ogoh-Ogoh Parade.
Not only the Ogoh-Ogoh burning which was there, but some of dances also were being the part of Tawur Kesanga. There were a lot of dances, like Pendet Dance, Cendrawasih Dance, and also Rejang Dance. The dances were dominated by colourful costumes, noisy sounds from the Gamelan, and also the applauses “Basically, all of the dances were the presents for God. This is how we say ‘thank you’ and delivers our gratefulness to the earth,” said Cinde, while watching the Rejang Dance, “This dance is dominated by young girls because they are considered as the symbol of gratefulness to God.” Cinde, who is also a Balinese dancer, had her own perspective about Silence Day.
”All people only know that we (the Hindus) are only staying at home, doing nothing while we are celebrating Silence Day. Actually, it is more than that. We go to Pure (the Hindus’ praying building) together with our family and relatives, do sembahyang, even there is the Ogoh-Ogoh Parade like this. And then, there is Ngembak Geni, a gathering activity after we did Catur Brata (which means no light, no noise, no activity, and no entertainment) on Silence Day. Although it is true that we do Catur Brata in Silence Day, actually we are having dialogue with God. Thus, interaction and dialog are always there, on the commemoration of Silence Day.”
Hence, what do usually people think about Silence Day? The feast of the Hindus? The day when the Hindus just remain in silence and do nothing? Even if it is true that they commemorate Silence Day in calm and tranquility, actually it has its own joy and cheers in what people see as the silence.

**This was an assignment of Journalistic Class in 2012. I miss this class a lot and also my super awsome lecturer.
 

December 10, 2013

Belajar, Ujian, Tes, dan...ah sudahlah...


Learning is interesting-almost-exciting. Taking exams is not.

Hal itu yang terlintas ga lama aja dari saya mencoba untuk posting tulisan ini. Kenapa saya tiba tiba kesurupan ngepost hal hal yang berbau belajar, karena saya emang lagi ada di fase yang muak banget buat belajar. Hari ini ujan terus seharian, besok saya ujian mid term susulan, dan bukannya belajar (baca: menghafal materi) buat UTS, saya malah terjebak pada dunia maya,berjam jam keasikan ngescroll timeline salah satu akun jurnalis yang baru aja saya termuin secara ga sengaja, baca beberapa bab dari kumpulan jurnal yang sama sekali ga ada hubungannya sama materi ujian saya besok.

Emang udah tipikal saya buat gampang ke-distract sama hal lain. So nirma-ish.

Emang udah dari lama ini saya sering kali mikir, kenapa sih mesti ada ujian? Kenapa ya? Ya buat ngukur kemampuan lah nir, namanya juga lagi kuliah. Ya mau ga mau. Tapi bener deh, saya mendambakan kehidupan yang kalo bisa, kita bebas belajar apapun yang kita mau, baca bergunung gunung buku yang kita tertarik banget, diskusi berjam jam berhari hari isu yang kita kepoin, observasi hal hal yang emang udah diujung kepala pengen banget kita temuin jawabannya, tanpa ada ujian. TANPA ADA UJIAN. Muluk? Emang. Kalo ga muluk, pasti udah bisa dijadiin sistem pendidikan di Indonesia kali deh. Makanya saya juga Cuma bisa bacot doang di blog. Sori deh, anak nya emang bukan tipe penggerak, tapi emang pen-dumel ulung doang. Mohon maaf ya, Bung Karno Bung Hatta, dan kawan kawan pahlawan.
Tapi bener deh, saya bukan nya sok sok intelek atau gimana ya, saya juga anak nya ga pinter pinter amat, dan ga suka suka amat belajar—kalo belajar diidentikan dengan baca teksbook kuliah dan belajar seharian rutin buat ujian. Tapi saya suka belajar. Definisi belajar saya itu ya tadi: baca buku seenak enaknya saya suka, diskusi kanan kiri dari orang yang lebih pinter, scrolling akun orang-orang yang punya banyak pandangan tentang isu isu yang beredar, baca blog blog dengan perspektif warna warni, atau bolak balik portal berita buat lihat tek-tok isu yang beredar udah ada di level apa. Dan yang penting, GA PAKE UJIAN.

Bukannya saya sentimen sama ujian dan bener bener anti-ujian. Enggak kok, cuma tadi setelah saya abis baca jurnal perempuan, terus ngerasa pusing sendiri karena baca tiduran, ga pake kacamata lagi, saya memutuskan untuk berhenti sejenak. Berdiri. Atur nafas. Minum air segelas. Memejamkan mata beberapa detik, terus buka mata. Eeeeehh, pas lagi buka mata, materi ujian marketing communication saya nongol di depan mata, semacem ngambek, unjuk rasa, “Gile lu yeh nir, besok nih gue yang bakal muncul di soal ujian, bukan jurnal perempuan! Lo mau nganggurin gue aja gitu?”
Terus saya mikir. Kaya nya saya lebih eager buat belajar ketika saya tahu bakal ga ada ujiannya. Biasanya saya jadi jauh lebih kepo dan input nya pun banyak. Tapi, yaaa saya juga mikir. Saya males belajar karena ujian, apa sebenernya karena saya takut sama hasil ujiannya nanti? Ketika saya sudah usaha semaksimal yang saya bisa tapi ternyata hasil ga berbanding lurus sama usaha? Gitu alesannya? Karena saya takut kecewa sama diri sendiri? Makanya saya lebih suka jalan aman buat belajar semau saya, sejauh yang saya suka dan pengen, tanpa harus diuji? atau karena emang saya nya aja yang ga mau repot keluar dari zona aman menyenangkan ga ada beban?

Ga ngerti. Ga paham. Yang jelas, saya masih ga pengen belajar buat ujian atau ngerjain tugas yang lain, dan mau lanjut baca yang lain. Keburu teh manis anget saya jadi dingin.

December 06, 2013

Blah Blah Blah


Lately I feel like ive been drowning. I don’t feel like I am in the right place. It is silly because actually I am in the position that I used to crave for. Yeah it is because while I am in my place now, I have to do a lot of demanding things which I consider as not-my-passion things.  At first, I moan a lot and cry a lot and moan a lot and whine a lot and cry a lot. Pretty lame, eh? But it happened.  I hate it so much when I have to do something that I don’t like, something that make me feel like “ I don’t understand what I don’t understand”. It is so frustrating, and as the result, Ive got some bad marks for those excessively exhausting and frustrating efforts. And because of that, I feel terrible and start to cry and moan and cry and moan and cry and cry. This sorta thing makes me feel so dumb and stupid. And I hate being dumb and stupid.

Not so many days ago, I tried not to repeat the same pattern; moan and cry and cry and whine. I tried to be stronger and tougher—yeah that is somewhat they called motivation. I stopped crying and start doing my thing as best as I could. I managed my time; I finished my work one step at a time. and yes, I didn’t cry at all. Done it smoothly. I considered it as my accomplishment since I was not like what I used to be. However, when the result comes, its till not as good as I expected. It is still not even average score for me. I feel sad and once again, stupid. I hate it so much. I wonder sometimes, why is it always like this? I mean like, I have done my best yet why there is no any kind of improvement in terms of the score. I don’t know. Is that because I don’t like to do the thing so the result is just like what Ive got? I know it is not even an excuse to blame on the assignment which I don’t like, yet I don’t know. By the time I post this, I don’t know what I feel. Its all mixed up. The disappointment, the misery, the blah blah and blah.

Ive never felt this depressed before. It is frustrating to know the fact that you’ve already done your best yet still got nothing. I know, as Paulo Coelho said that I might have lost some major battles, yet im still here, and I survived. That’s the only thing I have now to make me not to cry. But yeah, I am still not sure what it will be whether to be still survive from today’s major battle or not.