July 29, 2012

Konsep Melambat



Apa yang kau pikirkan jika kata “melambat” hadir di benak?
Ketertinggalan? Kesusahan? Menyusahkan? Kekalahan?
Bagi saya, melambat tidak selalu berarti memburuk.

Terkadang,
Melambat itu lebih baik dari mengejar.
Semacam melihat keadaan dan menikmatinya.

Melambat bukan selalu berarti ketinggalan.
Terkadang, berarti berjeda, mencermati, dan menyeimbangkan.

Melambat bukan berarti telat.
Terkadangm melambat membuat mu berpikir lebih dalam, mencari celah yang tepat yang justru nanti menyelamatkan.

Melambat itu kesempatan.
Kesempatan dari Tuhan.
Kesempatan untuk belajar mengamati dan menikmati.
Melambat itu anugrah.

Melambat itu mencintai diri sendiri.
Karena kau membiarkan dirimu bersuara, untuk diri mu sendiri.
Mendengarkan apa yang dikatakan nurani, lalu berjeda sebelum bertindak tepat.

Bukan kah dengan melambat
Kau jadi mengerti
Bagaimana di sekitar mu
Berapa banyak lubang yang kau temui
Berapa macam pilihan jalan yang bisa kau tempuh
Mengestimasi dan menganalisa jalan yang paling aman
Meminimalisasi kenyataan hasil gegabah

Tidak ada salahnya melambat.
Jika memang itu yang diperlukan.
Terkadang, teralu lama kita berlari.

Mengejar sesuatu yang bahkan sepertinya bukan kita yang mau.
Menuruti keinginan kanan kiri yang sebenarnya hanya berlalu.
Namun kita menanggapi teralu.

Terkadang,
Memang seharusnya kita melambat.
Melambat itu bernafas.
Menyeimbangkan dan menyelamatkan.



Hidup Muda


Cerita ini datang sesaat setelah saya sampai di kamar kosan saya yang berukuran 3x2 meter, bercat pink muda, dengan perabot seadanya, dan terletak pada gang Kober, Depok—baiklah, saya sudahi cerita tentang kamar kosan saya—hari itu panas, dan saya baru pulang dari kampus.

Berada di kosan kurang dari jam 4 sore itu adalah suatu keajaiban untuk saya. Bukannya saya melebih-lebihkan, hanya saja saya memang sempat mengikuti beberapa kegiatan yang sedikit banyak membutuhkan waktu lebih di luar jam kuliah saya yang juga sangat padat. Ya, sudahlah, atas nama almamater, saya pun menjalani dua kegiatan yang cukup membutuhkan komitmen itu, yaitu kuliah dan kepanitiaan. Pada awalnya, saya memang menyukai kedua hal itu—ralat, saya lebih suka kepanitiaan itu, karena saya tidak suka berada di kelas dan belajar—sehingga apapun deadline yang diberikan dari kepanitiaan itu akan saya kerjakan dan malah, diutamakan. Namun, setelah beberapa lama berkutat pada pekerjaan ”atas nama almamater” itu, kasur di kosan pun menjadi sesuatu yang mulai saya rindukan.

Betapa saya rindu ”leyeh-leyeh” di kosan, bercanda-canda sesama anak kosan, mempunyai waktu senggang untuk mengerjakan tugas, dan mempunyai waktu untuk diri saya sendiri.....

Inilah beberapa hal yang berbeda ketika saya masih menjalani pkerjaan ”atas nama almamater” itu dan setelah saya menyelesaikan pekerjaan itu.

Ketika saya pada fase ”sangat aktif” memang keadaan nya sungguh menyenangkan. Semangat yang selalu ada, otak yang selalu bekerja, gerak yang dinamis, hal-hal baru, pelajaran baru, seperti ada yang membara di jiwa saya. Hidup yang ’muda’, aktif, dan partipasif.

Hal itu baik, sungguh baik. Hanya saja, ada yang saya lupa. Saya lupa untuk memberikan ’nafas’ pada kehidupan saya. Maksud disini, saya berkerja, bekerja, bekerja, bergerak, bergerak, bergerak. Hidup yang cukup sesak. Saya lupa, tubuh ini bukanlah robot. Dia hidup. Dia butuh ruang luas. Dia butuh jeda.

Sering sekali dia mulai merengek, minta diperhatikan. Tapi, memang diri ini egois. Tak indahkan, tak peduli. Saya asyik dengan semua adrenalin yang berasal dari tekanan luar. Karena saya mau hidup yang muda, hidup yang penuh gelora.

Sekali lagi dia merengek, mulai terseok, mulai melemah. Tapi diri ini ambisius. Tak menoleh, tak peduli. Berburu pengalaman, berkutat pada teka-teki masalah luar dan target-target. Karena saya mau hidup yang muda, hidup yang bergelora.

Berkali-kali dia mencoba mengingatkan, saya tetap tak peduli. Sampai akhirnya, saya sakit. Terkapar di rumah sakit. Semacam ganti oli atau turun mesin atau apalah jika dianalogikan kepada motor atau mobil.


Pada saat itu, saya mulai berpikir apa yang salah.
Yang salah adalah saya yang egois.
Egois terhadap saya sendiri.

Sungguh, jika saya bisa memberikan sesuatu benda untuk menyampaikan permintaan maaf saya kepada tubuh saya, saya akan berikan.
Tapi, ya sudah, setidaknya si tubuh sudah memberikan saya ‘ganjaran’ berupa rasa sakit yang sungguh tidak nyaman.
Cukup adil untuk saya.

Dan sekarang, inilah saya. Berbaring diatas kasur yang saya cintai, mengetik cerita ini di kamar kosan saya yang sederhana, ditemani dengan sepoi-sepoi angin dari kipas angin yang belum saya cuci. Saya di pukul 4 sore. Saya yang sedang ‘bernafas’.

Memberikan jeda untuk teman saya yang selalu setia menemani saya dalam ambisi “hidup muda”.
Memberikan ruang setelah beberapa kali terhimpit desakan keadaaan luar.
Memberikan semacam kebebasan untuk sekedar melakukan hal-hal ringan tanpa beban.
Memberikan waktu untuk mengumpulkan kembali energi dan semangat muda yang seharusnya tetap ada.
Memberikan ”liburan” sampai saya siap kembali menjalani kehidupan bergelora itu.

Bukannya saya bermaksud mengatakan bahwa kegiatan di luar kampus itu sesuatu yang menyusahkan, tidak, tidak sama sekali. Kali ini saya hanya ingin menekankan betapa rindu nya saya dengan ”waktu untuk saya” sendiri.

Mungkin jika ada beberapa dari kalian yang menganggap saya melebih-lebihkan atau manja. Tak apa karena saya yakin, kegiatan saya yang secuil itu belum ada apa-apanya. Namun, yang saya maksudkan disini adalah betapa terkadang kita harus memberikan apresiasi terhadap diri sendiri.

Sehingga semuanya seimbang. Berjalan lapang dalam hidup yang sesak J



Akankah?


Akankah?

Apakah yang akan kau lakukan
Ketika kau tahu
Ajal menjemputmu saat mentari tenggelam


Akankah kau memohon maaf
Kepada mereka yang kau sakiti
Ibumu, ibumu, ibumu
Ayahmu, keluargamu
Kekasihmu, sahabatmu


Akankah kau berbuat baik
Kepada semua yang kau temui

Akankah kau mengingat
Tuhanmu

Apakah yang akan kau lakukan
Ketika semesta memilih
Untuk merahasiakan
Semuanya

Akankah kau berbuat demikian

July 28, 2012

Curhat Sekedar Lewat


Pernah ga ngerasa kaya kamu pengen sesuatu tapi ga tau pasti sesuatu itu apa? Atau pengen sesuatu tapi ga pengen-pengen banget tapi rasa nya itu sebenarnya bukan ”pengen” tapi ”butuh”?

Nah, kebetulan akhir-akhir ini saya semacam merasakan hal demikan.
Aneh?
Emang. Sejak masalah ”pengen-pengenan” itu bisa bikin saya merasa lain sendiri.
Gimana ya cara ngejelasin nya? Jadi terus buat saya bertanya-tanya aja ke diri sendiri,
“Lo mau nya apa sih, Nir?”

Pertanyaan itu kerap hadir setiap hari.
Awalnya sih saya merasa, ya sudah lah biarin aja, nanti juga hilang sendiri.
Namun, sialnya, akhir-akhir ini justru malah mengganggu.
Honestly, geregetan banget loh punya pertanyaan aneh di otak setiap hari dan semacam ganjalan di hati tiap waktu nya.

Hemm, terkadang saya bingung sama diri saya sendiri. Kok bisa-bisanya ngegalau-in sesuatu yang masih abstrak?
Ga tau yang digalauin apa, tapi galau sendiri.
Risau. Gelisah. Apa lah itu namanya.

Sejauh ini sih saya mencoba ”kalem”
Mungkin, memang ini jalan Tuhan. Proses kehidupan buat saya.
Entah lah, saya selalu percaya bahwa Tuhan itu bekerja sangat misterius.
Untungnya, saya suka kejutan. Makanya, sejauh ini saya lebih banyak melakukan sikap ”kalem” itu.

Oh ya, tambahan saja, kalem di sini bukan berarti saya berubah ga banyak omong, lebih pendiam, dan well-mannered dari biasanya. Bukan, bukan kaya gitu. Seorang saya ga mungkin berubah jadi se-elegan itu.

Kalem disini maksudnya, saya lebih berdamai dengan kekalutan batin ini.
Biarin aja, suka-suka mereka.
Tidak teralu mempertanyakan apa bagaimana mengapa siapa bla bla bla.
Membiarkan pertanyaan ini terus menggantung, sampai ada jawabannya.
Tidak teralu berusaha untuk mencari.
Membiarkan semesta mengambil alih, dan waktu ikut membantu.

Semoga cara ini berhasil. Semoga pertanyaan ini segera dijawab Tuhan. Amin.

Eyeliner, Indikator Keberhasilan Perempuan


Ini alasan saya kenapa saya lebih senang menggunakan angkutan umum untuk pergi kemana mana. Selalu ada cerita. Entah itu sesuatu yang menyentak saya untuk bangun, sindiran halus yang buat cekit-cekit kecil di hati, sampai banyolan yang meledakan tawa saya.

Namun untuk kali ini, kategori nomor dua yang hadir di pagi saya.

Pagi itu pagi yang sederhana. Cantik seperti biasanya. Hari senin, dan hari yang sama untuk memulai realita. Begitu pula saya. Saya harus kembali ke Depok, kota panas menyengat, representasi seperdelapan panas neraka. Seperti biasa, saya pergi menggunakan angkot dari perempatan rumah saya dan nanti nya disambung bus ke arah pasar rebo.
Nah, di angkot itu lah cerita kategori kedua itu dimulai.

Diawali dengan naiknya dua mbak-mbak cantik nan rapi ke angkot. Awalnya sih saya santai aja, mereka berdua bercakap-cakap layaknya teman sepermainan *ini apa sih* terus lama kelamaaan, pembicaraan mereka mengarah ke sesuatu yg membuat mata saya menyipit dan hati saya cekit-cekit.

Eye liner.

Siapa perempuan yang baca tulisan saya, ga kenal sama eye liner?
Yah, kalo ga tahu eye liner, ini deh nama lainnya, sipat mata atau celak mata *sumber: mama dan mak aji, nenek tetangga sebelah rumah
Kalo masih belum inget juga, udah bayangin aja, ada aspal cair hitam yang nempel di garis kelopak mata dari ujung kanan sampai kiri.

Ya semacam itu lah.

Nah, mbak 1 itu ceramah ke mbak 2 karena si mbak 2 pakai eye liner nya berantakan. Ga bagus gitu bentuk nya. Kalo istilah mbak1 nya sih "menyon-menyon". Entahlah saya juga ga ngerti itu terminologi dari mana.
Si mbak 2 membela diri dengan alasan emang ga bakat dandan dan tadi buru-buru (alasan yang familiar buat saya hahaha) Tapi, entah itu si mbak 1 kader dari Partai Make Up Indonesia atau apa, dia malah cerewetin si mbak 2 dengan semangat membara dan berapi-api. Dia bilang gini:

"Jadi cewe tuh paling ga bisa dandan dikit2. Supaya ga malu2in diajak kondangan. Modal tuh"

Waaaaah, mendelik lah mata saya
Ngilu lah ini dada saya
Cekit-cekit lah hati saya yang lembut ini

Kenapa hati saya cekat-cekit?
Soalnya, sudah dari kapan tau saya punya eyeliner. Sudah dari kapan tau saya belajar pake. Dari yang bentuknya cair, pensil, spidol lah, tetap aja ga bisa bisa. Kalo di twitter, saya biasanya pake tagar #emanggabakatcakep

Saya jadi mikir, segitu esensial nya eye liner buat perempuan? sampai-sampai indikator 'malu-maluin ke kondangan' diukur dari rapi dan sempurna nya garis semi aspal itu mengukir di ujung kelopak mata?
Entah lah, hanya Tuhan, Mbak 1 penggiat eye liner itu, dan mungkin sales oriflame yang tahu.

Yaaaaa, tapi kalo dipikir-pikir, omongan mbak 1 itu ada benarnya juga, sih.
Maksud saya, ga ada yang salah dalam usaha. Apalagi usaha memperbaiki atau mempercantik diri, asal ga berlebihan sih sah sah saja. Lagian, kalau pribadi kita, secara fisik dan kepribadian, menarik dan enak dipandang, kan kita juga yang untung. Orang di sekitar kita juga untung, yaaa pada kasus mbak-mbak tadi, "ga malu-maluin diajak kondangan" lah istilahnya.

Mungkin pertemuan saya dan mbak-mbak pagi tadi merupakan cara Tuhan untuk mengingatkan saya supaya sedikit lebih perhatian sama penampilan saya. Mungkin, Tuhan mempersiapkan saya untuk lebih 'luwes' dan 'enak dipandang' ketika saya harus menghadapi dunia kantor. Yaaaa, kan ga lucu aja ke kantor, meeting sama klien, tapi muka saya gini-gini aja kaya anak SMA mau rapat OSIS (anak SMA sekarang aja lebih jago pake eyeliner dibanding lo, nir) hahaha

Well, dengan hati yang masih setengah cekat-cekit, saya menghela nafas dan membatin, "Sudah saat nya saya berdamai dengan eyeliner yang berdebu di pojokan kamar sana"

Semoga saya cepat lancar pakai eye liner.
Semoga saya ga malu-maluin diajak kondangan.

Amin.

July 22, 2012

"We Found Love in a Hopeless Place"

Well, yeah it was the line from Rihanna's song, yet actually it happened in 18 July 2012, on my experience to a nursing home in Jakarta.

Haha, easy, it's not me who in love with granny. It's just we literally found that "love" in that "hopeless" place. Let me mention the words.

First, This nursing home is called  Panti Werdha Budi Mulia 4. It is located near Pondok Indah Mall. Don't you imagine this building is as glamour as the mall I've mentioned before. Nope, it is not. It is just an ordinary, yet fair house to live in. There is nothing excessive. And I have to be honest that the place is kinda smelly. It is because most of the elderly pee in their room, they barely go to the lavatory to do the 'thing'. So yaaa, you know what happens :) Anyway, this nursing home is inhabited by more than 100 grannies, male and female. Sadly, it only has 2 nannies to take care of those 100 grannies. As we were there, we we were guided by the nursing home officers, her name was Ibu Farra, she told us that most of the elderly there, 80 % of them, were taken from the street. Unfortunately, about more than 70% of them came in depression. Generally, they got lost in this big complicated city,  Jakarta, and could not find their way home. Some of them came by their own will. For example, there was one of the granny who used to be a prostitute. I forget her name, but she was so warm, friendly and nice. She came to the nursing home for her own safety. It was so sad, knowing the condition. I wonder whether it was their family's fault for not keeping them safe or what. And I'm so sorry about that. That was quite obvious to define "hopeless" word, wasn't it? Yeah, I hope it was.


This is the bed room, 10-12 grannies sleep together in one room
Next, the second word. "Love" in here is love. The smile, the laughter, the dimples on faces, the toothless smiles, the blushes on cheeks. It's all sweet. I've never been simply happy before. You know what seeing people smiling gives enormous energy. Love is not always about a couple who fall in love and ready to be an item. No, it is way more than that. But, we will talk about that, later hahha. Anyway, in that nursing home, I feel home. As the grannies feel too, they feel home for they have a lot of friends to be shared. They said to me, keep talking with friends and doing things are the best way to live your life.
This is me with those beautiful grannies :) sweet haha
I talked to one granny, her name was Nenek Ida, if I'm not mistaken. Everyday, she made some cute little knitted crafts. She did so for she said that she needed to be more productive as much as she could. Some woman, eh? hahaha. I talked quite a lot with her. Interesting, she said that being in  a nursing home was not that bad like the people used to think. They were happy, as I said before. They feel comfortable with the place, even tough she said that not many people came to their place for visit. Hence, they were really glad to have us there.There were a lot of laughter and giggle when we were there, and I was happy for that because--it might seem simple--we made them laugh and felt so cared by us. It was a blessed. Nenek Ida said to me that actually, it was not our donation which they needed the most, yet the care was the most needed thing for them.

Nenek Ida and me, holding those cute little knitted crafts

Did I mention about love and being an item? Well yeah, this is the surprising thing within the nursing home. These grannies had a love life in there!!!! hahaha. Yep, they were having relationship, flirting each other, and even getting married! I'm not kidding about that haha. Ibu Farra told me that there were some couples in the nursing home. Even, there was an old man who was like Don Juan in that place. Yeah, some kind of player or women-eater!! It was like you-have-got-to-be-kidding-me moment when I heard the thing. I was kinda laughing out loud knowing the truth. It was just like bewilderingly unbelievable hahaha.

Well, I hope you can understand what I mean by "we found love in a hopeless place". Funny, it is because I've never imagined my self in a nursing home, having chit-chat with the elderly, sharing smile, laugh, and story. It was amazing. There are some notes that I take, after I went there. First, it is good to take care of people. To give them support, to share laughter and stories to them. It can make you think about the life and learn from it. Second, you should take care of your parents. I mean, those grannies don't want to be there, if they can choose. They positively want to be around their family, surrounded by the love of their sons and daughters. And last, it might be the lamest one, love can be found anywhere, to anyone. I mean, look at them, they are not young anymore, yet they still have a chance to love each other, found their mate, and live happily as they wish.















Once more, God is very funny, for always giving a lot of puzzling yet blissful way of life :)

Bermain di Ruang Pikir

Bermain pada ruang pikir
Menarik sekali jika kau memiliki waktu dalam satu hari
Ketika kau hanya dapat diam, mendengar semesta,
dan bernafas tenang

Melupakan ketamakan dunia
Melupakan keganasan waktu
Hanya kau dan dirimu

Lantas kau bermain, berlarian
Di ruang pikir sudut dirimu
Tak usah banyak usaha untuk membunuh hari

Membiarkan gambar-gambar itu datang
Membiarkan imajinasi berkumpul dan menari
Tak ada kata benar, tak ada kata salah
Tak ada penilaian

Ketika kau bermain pada ruang pikir
Tak ada batas untuk rasa
Tak ada jeda untuk khawatir

Karena dunia hanya untukmu
dan hanya untukmu















**untuk sahabat saya, Ardhitra Hanifah yang selalu bermain di ruang pikirnya yang berwarna :)
Intip keajaiban ruang bermainnya di http://dtchn.tumblr.com/