“Hidup banyak
pilihan. Manusia banyak mau. Manusia banyak tak tahu. Tuhan hanya memberikan, ketika manusia tahu apa yang
dimau.”
September 21, 2012
September 18, 2012
Dua Jelata
"Terkadang, saya
bingung dengan hidup saya sendiri. Maunya apa?”
”Maunya
pangeran?”
”Iya.”
”Pangeran itu
hanya untuk putri, bodoh. Sudahlah banyak pemuda baik lain untuk mu. Lihat.... si pujangga, si pekerja
lokomotif, si penenun, si pedagang kota seberang....”
“Banyak.”
“Kau saja yang
teralu banyak meminta.”
“Pangeran itu…….”
“…dibiasakan
untuk ramah ke semua orang.”
“Memang….”
“….bukan hanya
padamu.”
“Sudahlah, jangan
kau berubah dungu. Pakai otak mu. Sudah teralu lama kau begini. Belajarlah.”
”Mulai
sekarang....”
”Pilih.”
”Bukan pangeran.”
September 14, 2012
Senja Gerimis
Terimakasih,
Tuhan, hari ini cukup indah. Senja ini Kau ridho-kan gerimis untuk ku.
Terimakasih,
Tuhan atas gerimis hari ini.
Walau sedikit.
Gerimis yang
membasahi bumi, memberikan harapan bagi bunga untuk hidup, membersihkan debu di
tanah tandus, memberikan wangi tanah lembab lembut halus, menyejukan udara
panas kering, melengkungkan senyum di hati.
Saya sadar,
Tuhan.
Gerimis ini
sekedar lewat. Gerimis ini sementara. Gerimis ini tak lama. Gerimis ini bukan
pertanda apa-apa.
Tak mengapa.
Saya tak akan meminta
banyak. Hari ini sudah lebih dari cukup. Hari ini sudah di luar batas harapan.
Hari ini lebih dari yang diduga. Hari ini indah, Tuhan.
Gerimis ini menenangkan.
Sesederhana itu. Cukup.
12 September 2012
Untuk Gerimis, yang (terkadang) memabukan
September 11, 2012
Hujan Menusuk
Hari ini hujan
Dan nampaknya,
sekali lagi, seorang anak berumur 5 tahun
Mengajarkan dan
mengingatkan saya
Bagaimana
seharusnya menanggapi kehidupan
Hanya karena
ungkapan sederhana
Sontak saya
berpikir
Sudah teralu lama
saya menjadi pengecut
Pengecut
Pengecut untuk
melakukan apa yang saya suka
Pengecut untuk
menerima konseuensinya
Apa yang salah
Untuk membayar
sesuatu yang kita suka?
Untuk berani
bermain dengan resiko?
September 02, 2012
Apa Yang Mereka Katakan Picisan
Tergambar jelas
rona indah hasil guratan ingatan akan pesona
Yang hanya bisa tertangkap lantas disimpan
Tanpa nyatakan
setelahnya
Kau lelaki
berikan pesona tanpa jeda
Ketika mereka
serukan hanya paras mu saja
Aku mengatakannya
dengan irama lain
Kau bukan lah
paras mu
Kau adalah hati
mu
Sejauh mengenalmu
hanya dari rupamu
Tak pernah ada
beda nya
Namun kali ini
lain
Kau membungkam ku
dengan semua kenyataan hidupmu
Kisah mu
Dan langkah mu
Demi langit yang
kelam dengan butiran bintang,
Sesuatu yang
nampaknya akan selalu terbatasi
Walau tak mampu dikurangi
Kau tahu,
Terdapat batasan
bias terhadap mana yang boleh dan benar dan mana yang tidak
Mereka bilang itu
norma
Namun, sebenarnya
ini bukan norma
Ini adalah ketakutan
Hasil elaborasi
logika yang biasa nya pasti
Kau teralu elok
Kau teralu indah
Hingga hanya
mampu terekam sebatas memori
Yang selalu hadir
di tiap denting waktu yang bergulir
Karena kau teralu
jauh
Tiada tangga sampai
Tiada usaha capai
Hingga ku hanya
rantaikan langkah
dan menyeret
jejak
Bodoh ku sapa,
kau terlewat
Tak heran mengapa
Kau lelaki pujaan
setiap wanita
Yang hanya dapat
ku nikmati dari tiap balik dinding beku itu
Tanpa sapa
setelah nya
Sudahlah,
Teralu tolol
untuk impikan
Biarkan saja aku
terus merantai langkah ini
Biar ku tidak
teralu jauh berjalan
Biarkan saja ku
kekang sayap ini
Biarku tak
malambung jauh
Bairkan aku tetap
di tanah
Diam, sehingga
pasir itu tak membawa ku teralu jauh ke dalam
Biarkan aku menyairkan
namamu dalam doa
Biar semesta
bernyanyi dan angin menyampaikan
Dan Tuhan
mendengar
Mana tahu waktu mendekatkan.
Percayalah
Pernah kalian disalahkan atas segala sesuatu yg tak pernah
kalian rasakan?
Demi langit.
Rasanya pilu bukan buatan, kawan.
Pernah kalian dianggap sebagai sesuatu yg sebenarnya bukan kalian?
Sesungguhnya.
Itu bagaikan jantung terhunus panah racun, kawan.
Pernah kalian dipojokan atas segala sakit mereka wlw sakit yg mereka berikan jauh lebih nyeri daripada yang mereka rasakan?
Kawan,
jangankan berikan prbandingan.
Mengingat rasany saja sungguh merupakan sayatan tak tertahankan.
Pernah perbuatan dan niatan baik kalian dibalas dengan sejuta cemohan?
Kau tahu, kawan?
Rasanya seperti kau punya tangis yang berubah jadi batu.
Lantas kau tak dpt menangis.
Hanya terdiam.terdiam.dan terdiam.
Menunggu rasa pilu itu mmbunuhmu perlahan.
Demi langit.
Rasanya pilu bukan buatan, kawan.
Pernah kalian dianggap sebagai sesuatu yg sebenarnya bukan kalian?
Sesungguhnya.
Itu bagaikan jantung terhunus panah racun, kawan.
Pernah kalian dipojokan atas segala sakit mereka wlw sakit yg mereka berikan jauh lebih nyeri daripada yang mereka rasakan?
Kawan,
jangankan berikan prbandingan.
Mengingat rasany saja sungguh merupakan sayatan tak tertahankan.
Pernah perbuatan dan niatan baik kalian dibalas dengan sejuta cemohan?
Kau tahu, kawan?
Rasanya seperti kau punya tangis yang berubah jadi batu.
Lantas kau tak dpt menangis.
Hanya terdiam.terdiam.dan terdiam.
Menunggu rasa pilu itu mmbunuhmu perlahan.
Jika kalian pernah
alami tadi,
bertahanlah, kawan..
Kau tak sendirian.
Biarkanlah mereka bebas mengatakan apa yang mereka inginkan tentang mu..
Angkat kepalamu, tegakkan jiwamu..
Lantas berjalanlah mantap lewati mereka..
Tak perlu lah, kawan, sendu itu..
Karena itu hany membuat puas tawa mereka..
Cukup 1 hal, kawan...
bertahanlah, kawan..
Kau tak sendirian.
Biarkanlah mereka bebas mengatakan apa yang mereka inginkan tentang mu..
Angkat kepalamu, tegakkan jiwamu..
Lantas berjalanlah mantap lewati mereka..
Tak perlu lah, kawan, sendu itu..
Karena itu hany membuat puas tawa mereka..
Cukup 1 hal, kawan...
Percayalah,
Tuhan tidak tidur.
Tuhan tidak tidur.
September 01, 2012
Kereta ekonomi. Cikini. Kontras. Semangkuk soto paru. Segelas McFloat. Pelajaran baru.
Kereta ekonomi: Sederhana. kotor. Jelata.
Rakyat. Angin semilir. Pekerja. Pemulung. Peminta-minta. Pengamen. Seniman jalanan.
Penjual asongan. Pekerja. Ibu-ibu rumahtangga. Mahasiswa. Peminta-minta. Umum.
Hidup. Manusia.
Cikini: Jakarta. Kota. Malam. Lalu lalang. Kendaraan. Gelap. Gemerlap. daerah baru. Perasaan ingin tahu. Dunia baru. Keingintahuan. Hidup. Manusia.
Kontras: Pemuda. semangat. Inspirasi. Aspirasi. Jerat birokrat. Jerat hierarki. Anti-otoriterianisme. Demokrasi. Kebebasan. Pancasila. Negara. Pemerintah. Orang hilang. Korban rezim. Kekerasan. Korban. Keluarga. Kepiluan. Kenangan. Peninggalan. Undang-undang. Kekecewaan. Kemarahan. Keadilan. Penuntutan. Penuntasan. Gejolak. Amarah. Hidup. Manusia.
Soto paru: Paru gurih. Kerupuk garing. Kuah banjir. Tomat segar. Sambal pedas. Nasi legit nan panas. Air putih segar. Hidup. Manusia.
"Laki-laki feminin": Beda. Berani. Eksentrik. Eksis. Pilihan. Senyum. Tangis tertahan. Nyanyian. Tarian. Tata rias seadanya. Busana atraktif. Usaha. Perjalanan. Penolakan. Sinis. Tangguh. Bertahan. Hidup. Manusia.
Mcfloat: Segar. Manis. Menengah keatas. Metropolitan. Soda menyengat. Dingin menyekat. Hidup. Manusia.
Bergerak.
Stagnan. Padat. Cair. Manis. Pahit. Baik.
Buruk. Manusia. Hidup.
Subscribe to:
Comments (Atom)
