December 27, 2015

Dira 2

Hujan turun lagi dan artinya Dira harus menunda pulang. Hari ini cukup melelahkan. Data ini, data itu. Meeting sana , meeting sini. Ketik sana ketik ini. Book sana book sini. Makan siang yang terburu-buru. Botol minum yang masih terisi penuh. Dira menghela nafas. Jam 5 sore adalah waktu yang langka untuk menghela nafas. Karena biasanya, ada saja ‘titipan’ yang mampir. Entah dari ibu ini atau bapak itu. Urus sana urus sini. Atur ini atur itu. Ada baiknya Dira menggunakan kesempatan ini untuk sejenak melemaskan otot-otot nya yang memang letih. Kerja. Namanya juga kerja. Tidak ada yang tak lelah. Semuanya sama, pasti buat kepala pusing dan otot kaku. Lalu Dira berpikir, akankah mungkin lelahnya berkurang jika memang dia mencintai pekerjaannya? Apa bedanya? Toh sama sama kerja juga. Sama sama mengeluarkan keringat dan tenaga. Dan juga menguras emosi. Namanya juga kerja, cari rejeki. Usaha, pasti ada lelahnya. Atau mungkin benar ada kurangnya? Kurang lelahnya, maksudnya. Bagaimana kalau Dira benar mengusahakan dirinya untuk bekerja seperti keinginannya? Jadi pelukis misalnya? Ah Dira merindukan dirinya dan kanvas dan palet dan cat cat yang membekas tak hanya di kanvas namun juga di tangannya. Tak pernah menyesal ia mengisi beberapa tahun dalam hidupnya untuk belajar dan akhirnya menghasilkan gelar sarjana seni murni. Namun, nampaknya dunia tak teralu menginginkan pelukis. Dunia menginginkan praktisi—setidaknya Jakarta. Bukannya, Dira tidak bersyukur dengan pekerjaan yang ia miliki sekarang. Sungguh egois jika demikian, mengingat ada ribuan orang di luar sana berjuang untuk hanya mendapatkan satu pekerjaan. Bukam, bukan Dira tidak bersyukur lantas mengutuk  kehidupan. Hanya saja, terkadang, Dira merasa hilang, Berisi namun kosong. Terang tapi gelap. Yakin lalu bingung. Dira mengela nafas lagi dan meneguk air pada botol yang sengaja ia bawa dan isi dari rumah. Hujan sudah reda, saatnya kembali pulang. Dira rindu kasur kamar tidurnya.

No comments:

Post a Comment