October 21, 2012

Bencana Itu Polusi

Ini salah satu karya dari seseorang yang saya kenal dekat, sebenernya seneng aja baca tulisan ini, jadi cuma pengen share aja, siapa tahu ada yang suka juga atau lumayan lah buat bahan bacaan pengisi waktu luang:




Bencana Itu Polusi


Delapan tahun yang lalu, kejadian itu terjadi. Semua manusia di dunia diguncangkan dengan bencana alam terbesar. Mungkin bisa kukatakan terbesar setelah meteor yang jatuh memusnahkan jutaan, bahkan miliaran spesies yang saat itu sedang hidup damai dan tenang beberapa juta tahun yang lalu. Manusia berteriak dan berlarian dari satu tempat ke tempat lain, mencari perlindungan yang sesungguhnya tak berguna. Bencana ini, mengubah semua kehidupan mahluk hidup di bumi.
Panas matahari masih saja menusuk walau waktu sudah menunjukan pukul empat sore. Namun, saat itu Jakarta sedang sedikit sepi. Para pekerja yang mengais nafkah dari pagi hingga senja belum juga keluar dari sarang uangnya. Angkutan umum sudah mulai berhenti di terminal dan halte. Tak jarang pula, ada beberapa yang nakal berhenti di persimpangan dekat lampu merah, menumpuk hingga kadang membuat pikuk. Asap knalpot kendaraan berlomba meriuhkan suasana sore itu dengan klakson yang semakin hari semakin bervariasi suaranya.
Aku sedang berjalan menuju rumahku ketika seseorang menyapaku dari kejauhan.
“Jon! Tungguin dong sebentar!” suara itu tak asing di telingaku. Ya, dia adalah Bibi. Mungkin bisa kukatakan dia adalah calon pacarku. Sudah sejak 4 bulan yang lalu aku berusaha mendekatinya. Dia adalah teman sekolahku. Walau tidak sekelas, kami sering bertemu ketika kelas usai. Rumahnya yang juga tak jauh dari rumahku terkadang selalu mendorongku untuk mengajaknya jalan bareng. Tapi apa daya, tak selamanya teori mudah dipraktikan.
Bibi adalah seorang wanita yang tidak manja, mungkin bisa kukatakan sama sekali tidak manja. Ia selalu melakukan tanggung jawabnya sendiri, tak pernah bergantung pada orang lain. Sifat ini yang membuat aku terkagum-kagum pada dirinya. Selain itu, ketidakmanjaannya ini terkadang membuat ia selalu terlihat kuat ketika sedang mengalami masalah, padahal aku tahu tak selamanya ia bisa menyembunyikan kepenatannya. Sifat yang baik akan lebih menarik jika didukung dengan paras yang cantik. Bibi punya itu. Mukanya sedikit oval, dengan dua bola mata yang tidak terlalu bulat dan berwarna hitam pekat tersusun rapi di atas hidungnya yang mancung. Bibirnya yang tipis menghias wajahnya yang tak pernah bosan aku lihat, eehhmm mungkin lebih banyak aku lirik. Tubuhnya juga tidak terlalu besar, mungkin agak sedikit kecil namun tetap pas untuk anak seumuran dia.
“Eh iya Bi.” dengan sedikit kaget aku jawab sapaan Bibi seadanya. Dia berlari dari jauh menyusuri jalan yang hanya muat untuk satu mobil saja. Rambutnya yang panjang ia biarkan terurai, menari ke kanan dan ke kiri seiring dia menghentakan kakinya ke tanah.
“Buru-buru banget sih balik dari sekolah. Dicariin ke kelas udah ga ada. Kejar setoran?”
“Haha kejar setoran apaan. Emang lagi mau pulang cepet aja. Gw males diajakin nongkrong mulu. Eh ngomong-ngomong, lo nyariin gw? Tumben banget. Kangen?” tak sadar aku lontarkan kata ‘kangen’ itu. Aku hampir tak bisa bernafas. Mungkin jantungku berhenti beberapa detik.
“Kangen ga ya? Iya sih. Emang lagi mau jalan balik sama lo aja.” Ia jawab pertanyaanku dengan santai sambil menarik nafas dalam-dalam. Bukan, bukan karena ia gugup seperti aku, tapi kecapean sehabis lari.
Banyak rumah yang kami lewati sudah mulai terlihat kosong. Yang aku tahu, penghuninya pindah ke daerah lain untuk menghindari badai debu yang sempat heboh dibicarakan di televisi oleh media-media swasta dan pemerintah. Beberapa penghuni yang masih terlihat sedang sibuk mengeluarkan barang-barangnya. Wajah mereka terlihat setengah panik, juga takut. Aku? Aku sama sekali tidak panik atau takut. Semenjak ditinggal ayah dan ibu dua tahun lalu tidak ada alasan untukku untuk meninggalkan rumah warisan mereka. Mereka mungkin pergi terlalu cepat, ya karena bencana brengsek itu yang tak kunjung berhenti. Entah itu badai debu atau badai angin. Aku tidak peduli. Mereka meninggal karenanya dan aku mulai muak mendengar ocehan orang tentang badai itu.
“Katanya sih sekarang mau ada badai lagi. Dan katanya juga, kali ini badainya makin parah. Udah semakin banyak pabrik-pabrik di Jakarta. Tenaga pekerjapun udah ga dibutuhkan lagi karena teknologi robot sok keren itu. Kemarin Taiwan yang udah lenyap, paling sebentar lagi Indonesia nih.” Bibi melempar wacana yang sebenernya sama sekali tidak mau aku dengar.
“Ya kan masih katanya. Lagian di berita ngomongnya tiga bulan lagi kan badainya menuju Jakarta? Kan kita harus percaya sama yang namanya berita. Mau itu berita boong atau bener. Ga ada yang tau juga. Cuma Tuhan sama pemerintah dan pengusaha swasta yang nyari duit yang tau. Jadinya santai ajalah.” aku menjawab sederhana, tak berpikir terlalu banyak.
“Hhmm..bener-bener.”
Aku lirik lagi, kini wajahnya berubah sedikit panik, aku bisa lihat itu. Ia yang kini tinggal dengan ayahnya saja mungkin mulai belum bisa melupakan kematian ibunya, yang berbarengan dengan kedua orang tuaku. Mereka adalah korban-korban dari badai brengsek itu.
Keadaan langit di kejauhan mulai gelap, padahal ini baru pukul lima sore. Suara ricuh juga mulai terdengar beberapa ratus meter ke depan dari tempat kita berjalan. Ada apa ini? Apa badainya sudah datang lebih cepat? Lebih cepat tiga bulan? Tidak mungkin. Atau mungkin? Persetanlah, aku tidak peduli.
“Jon, kayanya badainya mau dateng deh.” Bibi terlihat sedih, merasa bersalah mengatakan hal itu padaku. Aku sadar akan hal itu. Sedari 15 menit yang lalu ia menundukan wajahnya, berusaha mengatakan sesuatu yang sedari dulu mungkin ia pendam.
“Emang iya? Ah, gpp deh. Kebetulan gw belom bayar utang, kalo badainya dateng, terus gw mati, utang gw lunas kan, lagian gw udah gapunya siapa-siapa lagi hahaha.” aku berusaha menghibur Bibi yang telah meneteskan air mata. Aku tak kuat menanyakan apa yang sedang terjadi padanya, mungkin tidak tega, atau tidak berani. Aku juga tidak tahu kenapa.
Sesaat setelah aku tertawa, ia palingkan wajahnya padaku, dan menamparku. Beberapa ratus meter di depan, sudah tidak terdengar lagi suara ricuh dan jerit-jerit orang yang panik macam ayam kehilangan kepalanya. Aku kaget setengah mati. Ia menamparku. Wajahnya yang kini telah ditutupi dengan air mata dan debu-debu masih terlihat manis. Aku tidak sanggup marah padanya, tidak sanggup membentaknya atau membalas pukulannya. Ia menangis lebih kencang lagi. Kini kuberanikan diri untuk bertanya.
“Lo kenapa sih, Bi? Tiba-tiba nangis terus nampar gw.”
“Lo tau apa yang bakal terjadi lima menit lagi? Lo udah ga dengar suara-suara orang di depan sana kan? Mereka semua udah mati Jon! Badainya udah masuk ke Jakarta! Liat langit sekarang, masih jam lima sore dan langit udah gelap. Ini bukan mendung, ini tanda kalo badainya udah ada di atas kita!”
Aku terhenyak seketika, aku tak bisa berkata apa-apa. Candaanku sebelumnya terlalu kasar untuk menutup kehidupan kita berdua.
“Jadi, kita harus gimana Bi?”
Tangannya yang kecil menggenggam tanganku yang sedari tadi berkeringat karena gugup. Ia tetap menangis, menatapku penuh harap. Badannya bergetar ketakutan. Ajal akan menjemputnya sebentar lagi. Baju putih kita mulai kotor ditutupi dengan debu-debu. Ia bergeming kecil, aku tidak mendengarnya dengan jelas. Aku tanya lagi apa yang ia ingin katakan padaku.
“Gw takut Jon, gw takut. Tolong gw Jon.”
Aku semakin tidak mengerti apa yang ia katakan. Nafasku mulai sesak. Pandanganku mulai sedikit buram, pendengaranpun semakin minim. Yang masih aku bisa rasakan adalah genggaman Bibi.
“Jangan tinggalin gw Jon. Gw..gw sayang sama lo...”
Aku melihat Bibi terjatuh ke tanah. Sudah tak bernyawa. Lalu semua gelap. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Aku jatuh bersama Bibi, masih menggenggam tangannya. Aku sudah tidak bernafas. Badanku dingin dan lemas, tidak bisa bergerak. Yang aku rasakan hanya genggaman Bibi, hingga aku tertidur, dalam waktu yang panjang.


Angga Nugraha, 2012

No comments:

Post a Comment