October 22, 2012

Dia, Dia, dan Dia (1)


Terlihat lagi paras ayu nya. Sungguh tak kuasa menahan pesona mahkluk Tuhan yang luar biasa indahnya itu. Sudah lebih dari ratusan bulan aku mengenalnya, tapi tetap saja aku tak berani mengatakan apa yang sebnarnya pada diri ku ini. Tidak. Dia teralu indah untuk menangis. Aku hanya takut segala hal yang belum aku sampaikan padanya hanya membuatnya terus terpaku pada kesedihannya bahkan lantas pergi meninggalkan aku. Tidak. Aku tidak kuasa menahan rasa bersalah itu.

Aku adalah sahabatnya, bukan kekasihnya. Harus ku maklumi batasan itu. Dia menganggapku sebagai langit tempat dia bernaung dalam hidupnya, sedangkan aku menganggapnya matahari yang selalu mnyinari hidupku. Sadarkah ia bahwa aku tak mungkin bisa hidup tanpanya? Mungkin kau akan katakan, aku ini pembual yang berlebihan, tapi tidak. Ini benar-benar nyata. Pernah sewaktu itu aku tak bertemu dengannya. Bagai manusia tanpa tulang, ak lemas. Linglung ingin apa. Tak bisa bertegur sapa ataupun hanya memperhatikan kecantikannya dari kejauhan. Rumpang rasanya hari tanpanya. Kau tahu? Dengan dengar renyah tawanya saja bisa buat ku melupakan semua kegelisahan dalam hari ku. Entah itu masalah tugas bertumpuk, urusan pkerjaan yang tak kunjung selesai, rapat sana sini, genteng kamar kosan yang tak pernah dibetulkan oleh si empu kosan, atau motorku yang sering ngambek ketika dia meminta bantuan untuk mengantarnya pulang.

Jika aku bisa memberikan julukan yang lebih baik dari “ indah”, akan ku lakukan itu. Sayangnya, aku bukan pujangga yang senang berkata-kata. Aku bukan penyair yang mampu membuat seluruh alam terpana. Aku pun bukan seseorang lelaki dengan seluruh kemampuan berbicara ku. Aku hanya seorang lelaki penuh dengan mimpi ku. Mimpi yang dipenuhi dengan raut gembira dan rona cerianya. Penuh dengan senyum membingkai wajah nya, semangatnya, dan suara manis nya yang mampu buat ku bungkam. Demi langit, aku sangat menyayangi satu hawa itu.

Apa kau pernah merasakan cinta? Apa kau tahu cinta itu apa?

Entahlah, kata orang perasaan berdebar ini cinta adanya. Ak tak peduli ini cinta atau bukan. Yang ku pedulikan hanyalah, aku suka perasaaan ini nyata. Aku suka ketika rasanya darah seluruhnya mengalir dari otak langsung menuju ujung kaki, berharap ingin keluar, akau suka rasa pusing kepala ini ketika dia menyapa, aku suka rasa dingin seakan menusuk organ hati ku ketika dia panggil namaku.

Ada yang bilang cinta itu pembodohan.

Ya, tragis memang. Aku terkadang merasa seperti itu. Kurang bodoh apalagi aku? Jelas dia wanita dengan prianya. Dia sudah ada yang punya. Walaupun ada yang bilang sebelum ada janur kuning semua kemungkinan itu ada, namun tetap saja aku merasa kemungkinan itu sudah tak mungkin. Sekali lagi, aku adalah sahabatnya, bukan kekasihnya. Betapa beruntungnya pria itu mendapatkan seorang wanita secerdas, setegas, sesabar, selembut, dan secantik dia. Walaupun aku tahu, rasa sayang pria itu tak sebesar rasa sayangnya. Sungguh ingin aku katakan semua. Tapi, tidak mungkin aku membiarkan butiran air mata jatuh di paras eloknya?  Mencabik lembut hatinya? Tidak. Aku tidak bisa setega itu. Aku serba salah dan serba bingung. Ingin sekali aku memperlihatkan kepadanya bahwa pria pilihannya itu tidak tepat untuknya. Tapi, aku tidak bisa. Itu di luar wilayahku. Di luar kapasitasku.

 Sampai akhirnya hari itupun tiba. Saat dimana aku tidak bisa melawan keadaan. Aku hanya bisa menyaksikan wanita yang paling kupuja sepanjang masa (selain ibuku) bersanding dengan pria yang ‘bukan untuk nya’. Sungguh sekarang dia lebih matang, lebih cantik, lebih mempesona. Dia berjalan perlahan dengan air muka bahagia yang tidak dapat disembunyikan. Dia selalu melempar senyum pada tiap orang, lebih –lebih kepadaku. Berhari-hari sebelum pernikahannya, dia selalu menceritakan detil perasaannya. Rasa senang yang tiada tara. Rasa bahagia yang meluap-luap beserta cerita cinta dengan lelaki pilihannya. Dari mana meraka bertemu, kapan si pria menyatakan cinta kepadanya, apa lagu mereka berdua, kemana mereka akan berbulan madu, dan segala macam lainya. Tidak ada kalimat selain “ aku bahagia, kau bahagia.”

Ketika dia lelah dengan semua urusan persiapan pernikahannya, aku orang yang mendengarkan ocehan nada tinggi nya yang khas di malam hari sampai pagi buta. Dan sekarang aku juga yang harus menelan ludah melihat semua ini. Aku ingin menangis dengan dalih bahagia, tapi aku memilih berkutat dengan kameraku, berusaha mencari objek lain. bukan dia ataupun pria itu.

No comments:

Post a Comment