July 10, 2012

Cerita Dari Seteguk Coklat Panas


Saya memiliki cerita yang cukup sederhana
Tapi mampu membuat saya sedikit merenung.

Saya memutuskan untuk pergi ke sebuah mall di kota saya,  bermaksud membeli buku.
Tapi karena buku yang saya maksud tidak ada,
Saya pun berlabuh di sebuah toko donat berlambang merk denagn dominasi warna orange dan coklat
Kebetulan, saya memang ingin coklat panas dan donat berlapis gula itu

Datang. Beli. Minum.

Hal itu yang biasa saya lakukan.

Tapi kali ini, saya tidak langsung menghabiskan si coklat panas dan donat lapis gula itu dengan cepat kilat tanpa belas kasihan.
Karena, yaaa, saya memang  masih punya banyak waktu untuk ‘dibunuh’
Jadi, saya agak sedikit berlama-lama duduk disana.

Seteguk…seteguk…
Segigit…segigit…

Saya menggerakkan badan, mengatur posisi nyaman saya.

Seteguk.. seteguk..

Mata saya memandang ke arah luar,
Ternyata pohon yang berada diluar cukup hijau untuk menyegarkan mata.

Seteguk.. seteguk..
Dan segigit..

Dan saya mulai berpikir, “Ko, coklat ini lebih enak dari biasanya ya?”

Terus saya meminum seteguk demi seteguk dan tetap melihat suasana sekitar saya.

Seteguk.. seteguk..
Segigit..

Saya meletakkan coklat panas saya di atas meja.
Lalu saya memejamkan mata.
Terasa di lidah, manis yang menyebar rata..
Aroma coklat yang memenuhi saluran pernafasan saya
Dan gurihnya rasa mentega..

Saya menghela nafas, “Sungguh nikmat coklat ini.”

Akhirnya saya membuka mata,
Setelah saya membuka mata,
Saya pun tersenyum..

“Enjoy slowly.. This hot beverage is all yours..”

Itu tulisan yang terdapat di permukaan gelas colat panas yang saya minum.
Lucu sekali.
Setelah sekian lama dan sekian banyak meminum coklat panas yang sama,
Saya baru mengerti pesan yang disampaikan si coklat panas.

Memang arti harafiahnya “Nikmatilah perlahan.. Minuman panas ini sepenuhnya milikmu..”
Pesan itu sengaja disampaikan agar si pembeli bisa meminum coklat itu perlahan.
Karena memang, coklat itu cukup panas untuk diminum segera.

Tapi, saya juga menangkap lain isi pesan itu.

“Enjoy slowly… This hot beverage is all yours..”
Merupakan sindiran unik bagi saya.

Banyak dari waktu yang saya lalui segera..secepat mungkin..
Karena saya mematok banyak target hidup yang harus saya achieve.
Terus..terus..mengejar ‘sesuatu’, seperti cara yang biasa saya gunakan untuk menghabiskan coklat panas itu

Setelah habis,
Saya lupa nikmat rasa coklat itu..

Berbeda sekali dengan apa yang saya rasakan sekarang.

Coklat panas itu terasa lebih nikmat..
Dan saya baru ingat, hal yang sering luput dari carahidup atau gaya meminum coklat saya,


Jeda.



Terlalu sibuk saya dengan target dan ambisi saya.
Hingga saya melupakan tubuh saya pun berhak bersenang-senang.
Terkadang hingga saya lupa betapa indah hidup ini, bahkan dari hal-hal sederhana.

Betapa sejuk pemandangan di luar
Betapa manis cara ibu anak tadi berkomunikasi
Betapa manis kenangan hidup saya
Betapa baik keluarga, teman, dan kerabat saya
Betapa menyenangkannya menjadi saya
Betapa beruntungnya saya


Ya, benar. Saya lupa akan itu, Kawan.

Itu sebabnya saya sering merasa tak puas diri, terkadang justru merasa selalu ada yang salah, dan berujung pada rasa penat akan hidup sendiri.

Bukan bermaksud untuk hidup lambat lantas tidak memiliki tujuan dan target pencapaian.
Tapi, semata mata mengingatkan kita akan tombol ‘pause’ dalam hidup kita.

“Enjoy slowly...”

Karena,
Dengan jeda, kita lebih bisa menenangkan diri sendiri.
Menghela nafas sejenak.
Melihat dengan jelas keadaan sekitar.

“This hot beverage is all yours..”

Walaupun hidup tidak mudah,
Tapi hidup ini sesungguhnya tetap milik kita..
Kita berhak menentukan bagaimana cara kita menjalani hidup.
Kita berhak  beristirahat sejenak di tengah padatnya keadaan.
Kita berhak menepuk pundak kita, memberikan apresiasi kepada diri sendiri.
Kita berhak berbahagia atas apa saja yang terjadi dalam hidup ini.

Baru kemudian,
Merencanakan perjalanan hidup dengan diri yang jauh lebih bahagia, tenang, dan siap.


Itulah, Kawan, cerita dari seteguk coklat panas.
Semoga sedikit memberi pemahaman. J

No comments:

Post a Comment